Sejarah FDKI Mengaji
Sejarah Singkat FDKI Mengaji: Menanam Benih Spiritual, Mewujudkan Visi Religius
Perjalanan FDKI Mengaji bermula dari sebuah diskusi hangat di sudut Gedung Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI). Pada Januari 2023, sesaat setelah ujian akhir semester ganjil usai, lima orang dosen Iqrom Faldiansyah, Amrullah, Musa, Dody Irawan, dan Al Fakhri Zakirman berkumpul di "Meja Batu", sebuah sudut ikonik yang menjadi saksi lahirnya gagasan besar ini.
.jpeg)
Diskusi tersebut bermuara pada sebuah kegelisahan kolektif. Sebagai penguji skripsi, para dosen seringkali dihadapkan pada dilema moral: meluluskan mahasiswa yang secara akademik siap, namun secara kompetensi keagamaan khususnya baca tulis Al-Qur'an masih jauh dari standar minimal.
Ada kesenjangan antara gelar sarjana yang akan disandang dengan pemahaman dasar spiritualitas yang seharusnya menjadi identitas lulusan perguruan tinggi Islam. Menanggapi keresahan tersebut, Al Fakhri Zakirman punya pengalaman tentang program FU’AD Mengaji yang pernah dilaksanakan IAIN Pontianak. Program tersebut berfokus pada pembekalan intensif membaca Al-Qur’an bagi mahasiswa baru setiap hari Jum'at dengan dukungan penuh dari pihak fakultas.

Terinspirasi dari keberhasilan model tersebut, para dosen sepakat untuk mengadaptasi dan menghidupkan semangat serupa di IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung. Nama "FDKI Mengaji" dipilih karena sifatnya yang inklusif dan mudah diingat, sekaligus menegaskan bahwa program ini adalah identitas serta komitmen nyata dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam.
FDKI Mengaji dirancang sebagai upaya sistematis untuk menutup celah pengembangan aspek spiritual mahasiswa yang selama ini dirasa belum optimal. Fokus utamanya adalah mahasiswa semester dasar, dengan tahapan yang terukur; Pemetaan (Mapping): Mengidentifikasi kemampuan awal mahasiswa, Pembimbingan: Proses belajar intensif baca tulis Al-Qur'an dan ibadah praktis, Ujian Kelulusan: Penjaminan mutu kompetensi spiritual sebelum mahasiswa melangkah ke jenjang yang lebih tinggi.

Program yang awalnya lahir dari inisiatif akar rumput ini kemudian mendapat sambutan positif dari pimpinan fakultas. Dukungan tersebut semakin kuat hingga akhirnya FDKI Mengaji dilegalkan melalui kebijakan Rektor IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung, menjadikannya program resmi yang memiliki payung hukum tetap. Kini, FDKI Mengaji telah berkembang melampaui tujuan awalnya.
Program ini tidak hanya menjadi solusi bagi problematika internal mahasiswa, tetapi juga mulai merambah kebermanfaatan bagi siswa dan masyarakat umum melalui berbagai program literasi keagamaan. Dikelola dengan semangat pengabdian tanpa mengutamakan aspek materi, para pengelola tetap menjaga komitmen dan konsistensi. Harapannya satu: mewujudkan visi IAIN SAS Bangka Belitung dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga kokoh secara religius, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat luas.