BERHARAP KEBERKAHAN

avatar HUMAS FDKI
HUMAS FDKI

63 x dilihat
BERHARAP KEBERKAHAN

Oleh: Rusydi Sulaiman, Pembina FDKI MENGAJI & Guru Besar dalam Kepakaran Bidang  Pengkajian Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung.

 

Orang selalu mengatakan  berkah atau barokah (Bahasa Arab), dilekatkan pada sesuatu yang telah diberikan kepada orang lain dengan harapan dapatkan manfaat darinya,  apalagi diberikan kepada orang baik, dan atau sebaliknya mendapat sesuatu darinya, maka diyakini lebih barokah.

Dalam perspektif santri, apapun yang dilakukan selalu berbau barokah, dan diharapkan barokah atau keberkahannya. Sedikit namun barokah, misalnya dalam hal makanan dan minuman. Maka ada kalimat," kūlū jamÍ'an, fa innal-Barokata ma'al-Jamā'ati" (makanlah bersama-sama, sesungguhnya barokah atau keberkahan menyertai kebersamaan). Hidup sederhana itu sesungguhnya mengandung keberkahan.

Berbeda dengan orang bakhil yang tujuannya mencari materi sebanyak-banyaknya. Tidak sedikit pun di benaknya ingin berbagi. Banyak hak miliknya berupa apapun,  tapi belum tentu barokah. Mungkin salah niat dan proses pencariannya juga tidak baik. Cukup mengejutkan, semuanya habis tak tersisa. Orang bakhil itu pun kembali miskin  bahkan meminta- minta. Artinya tidak ada keberkahan hidup dalam dirinya. Belajarlah dari pengalaman hidup Qorun yang dalam sejarahnya sangat bakhil.

Terdapat fenomena tertentu di tengah masyarakat terkait  barokah, yaitu ngalap barokah atau tabarruk adalah usaha mencari tambahan kebaikan atau berkah dari Allah Swt.  dengan perantara orang shaleh, tempat, waktu, atau amal tertentu. Terlepas dari  kritik dan sorotan pihak tertentu, hal  tersebut masih berlangsung hingga kini bahkan sangat diyakini;  minum sisa air minum guru atau kyai; berziarah ke makam ulama tertentu; membaca amalan di waktu-waktu  tertentu dan semacamnya—tiada lain untuk tujuan tabarrukan (ngalap barokah).

Itulah wujud budaya sebagai bagian dari agama karena tujuannya mendekatkan diri kepada Tuhan, Allah yang Maha Suci. Ada atau tidaknya barokah ( keberkahan),  hanya  dirasakan oleh orang yang mengamalkannya. Pastinya suasana kejiwaan  itu tidak mudah didapat kecuali     terpenuhinya syarat tertentu secara bertahap,  yaitu: pertama, keteladanan ( uswah). Keteladanan berada pada diri orang  baik sehingga menjadi cerminan dan pijakan  bagi orang lain. Terkait keteladanan itu ada ukurannya, juga tidak semua orang  mampu meneladani. Disebutkan dalam QS.Al-Ahzab (33): 21)—Artinya: "Sungguh ada pada diri Rasulullah keteladanan yang baik (Uswatun Hasanah), bagi siapa yang berpengharapan kepada Allah dan hari akhir, dan juga siapapun yang senantiasa berdzikir".

Kedua, kepercayaan ( tsiqah). Keteladanan memunculkan kepercayaan. Sebaliknya menaruh kepercayaan kepada orang yang tidak menjadi teladan tidaklah mudah. Mengapa *dipercaya* bila dia bukan orang baik; ketiga, penghormatan dan kemuliaan (Ikrām). Bila seseorang memiliki keteladanan dan kepercayaan, maka kehormatan akan melekat dalam dirinya.     Hormat bukan dalam bentuk formal—angkat tangan, melainkan bersumber dari rasa hormat yang mendalam.

Adapun keempat, ketaatan (thā'ah). Tanpa disadari tahapan ini akan muncul berikutnya dalam diri seseorang. Hampir tidak ditemukan fakta bahwa anak menolak perintah ibunya, pasti taat, karena seorang Ibu telah melahirkan, membesarkan  dan selalu memberikan contoh sikap baik (keteladanan), mendapat kepercayaan dan sangat dihormati oleh anaknya. Ingat,"ridhallah fi ridhal-Wālidain, wa sukhthullah fi sukhthil-Wālidain" (ridha Allah tergantung ridha kedua orang tua, sebaliknya murka-Nya tergantung murka kedua orang tua). Ketidaktaatan anak kepada orang tua memberi dampak tidak baik bagi masa depan anak tersebut.

Bila keempat tahapan tersebut tertanam dalam diri seseorang dalam konteks hubungan antar manusia yang tujuannya semata-mata kepada Allah, maka keberkahan atau barokah akan didapat. Keberkahan adalah sesuatu yang bersifat transenden, tidak mudah dirasonalisasikan, kecuali bagi mereka yang memiliki akal potensial dan ketajaman rasa (kalbu). Epistemologi Irfani adalah model kajian yang dapat dijadikan pijakan untuk menyentuh sebuah keberkahan atau barokah.

Bila bencana dan musibah terus menerus melanda negeri ini, berarti tidak ada keberkahan di dalamnya. Empat tahapan sebagai syarat keterpenuhan barokah belum terjalin. Dan barokah tersebut dibukakan bagi penduduk negeri sepenuhnya beriman dan bertakwa kepada Allah, Dzat yang Maha Pencipta, sebagaimana ditegaskan dalam QS.Al-A'raf (7):96). Artinya: "Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai apa yang telah mereka kerjakan".

              Simpulannya bahwa barokah atau keberkahan hidup seseorang tidaklah mudah didapat kecuali dengan muatan kebaikan yang telah diurai. Sesuatu yang terkadang kita Yakini bermanfaat bagi kita, namun belum tentu sesuatu mengandung keberkahan. Marilah kita mencari keberkahan, karena hal itu sebuah kemestian bagi setiap hamba. Wassalam.