MEWASPADAI API

avatar HUMAS FDKI
HUMAS FDKI

24 x dilihat
MEWASPADAI API

Oleh: Rusydi Sulaiman, Guru Besar dalam Kepakaran Bidang Pengkajian Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

Begitu masif bencana demi bencana melanda penduduk bumi termasuk negeri ini, Indonesia; banjir bandang, kebakaran hutan, gempa bumi dan erupsi beberapa gunung merapi. Masih kuat dalam ingatan kita, yaitu semburan  api anak gunung karakatau. Ada apa dan mengapa terjadi di negeri ini?

Unsur-unsur alam seperti tanah, air, udara dan api tak lepas dari kehidupan manusia, entah mana yang mengawali karena hingga kini  masih dalam perdebatan sebagian filosuf. Disebutkan air adalah unsur yang utama walaupun tanpa angin sebenarnya manusia juga  tidak bisa hidup apalagi tanah. Begitu juga unsur api, pasti dibutuhkan  walaupun terkadang  dihindari. Artinya manusia harus bersinergi dengan unsur-unsur tersebut.

Sentuhan kelembutan sudah semestinya  dilakukan manusia terhadap unsur-unsur alam yang hakikatnya juga makhluk hidup di muka bumi. Belajarlah dari orang-orang bijak terdahulu seperti beberapa nabi yang memuliakan siapapun dan apapun sehingga sebagiannya dianugerahkan mukjizat tertentu. Berikutnya para wali yang mendapatkan karomah tertentu pula. Tidak ada sentuhan kasar ( hard approach), usikan, gangguan, pelecehan, menganggap rendah orang lain dan atau makhluk tertentu apalagi sikap represif, intimidatif, eksploitatif  hingga bentuk kejahatan tertentu, kecuali hal-hal bernuansa baik melekat pada mereka; tegur sapa, mengasihani dan  meringankan beban sesama.

Terkhusus api yang selalu dikesankan sebagai sesuatu yang membahayakan padahal makhluk hidup sangat membutuhkannya di waktu tertentu. Kata api secara umum adalah panas dan cahaya yang berasal dari sesuatu yang terbakar atau nyala.

Tiga unsur utama yang membentuk dan mempertahankan api adalah panas, bahan bakar, dan oksigen, yang dikenal dalam ilmu pemadaman sebagai Teori Segitiga Api. Ketiganya disikapi sesuai filosofinya dan diperlukan keterampilan tertentu bahkan tekhnologi tinggi.

Panas (Heat): Suhu tinggi yang memicu pencapaian titik nyala sehingga bahan bakar dapat mulai bereaksi dengan oksigen. Bahan Bakar (Fuel): Setiap zat atau materi yang bisa terbakar, baik berwujud padat (kayu, kertas), cair (bensin, dolar. Oksigen (Oxygen): Kandungan gas di udara (biasanya sekitar 21%) yang berfungsi mutlak untuk mendukung proses kimia oksidasi agar api tetap menyala.

Api tetap dibutuhkan untuk keberlangsungan hidup manusia, namun ia mesti diwaspadai. Sentuhan kasar terhadapnya dan unsur-unsur alam lain membuat api bereaksi cepat atau lambat. Api sangat menguntungkan di setiap waktu, dan sebaliknya membahayakan di saat tertentu. Kedua situasi tersebut bersentuhan dengan setiap makhluk hidup dalam keseluruhan konsep kosmologis.

Ketika ancamannya neraka bagi  orang-orang yang sesat (pelaku dosa), maksudnya adalah api, yaitu api neraka yang bahan bakarnya batu dan manusia. Tujuh macam api neraka, yaitu: pertama, Neraka Jahannam (ingkatan teratas); kedua,  Neraka Lazha (yang menyala-nyala dan bergejolak); ketiga, Neraka Al-Huthamah: ( yang menghancurkan dan membakar hingga menghancurkan hati); Keempat, Neraka As-Sa'ir (yang menyala sangat panas); kelima, Neraka Saqar ( neraka dengan siksaan pedih); keenam, Neraka Jahim (Tempat siksaan  disiapkan bagi orang musyrik); ketujuh, Neraka Hawiyah: Tingkatan neraka yang paling dasar).

Lebih spesifik api dalam laut disebutkan kata al-masjūr ( menyala-nyala, dipanaskan, atau penuh dengan air yang dibendung). Al-Bahrul-Masjūr, didalamnya terdapat gunung api bawah laut (Submarine Volcano). Sebagaimana yang tercantum dalam  QS.Ath-Thur (52): 6-10)--Artinya:"(6) Dan demi laut yang di dalam tanahnya ada api (atau lautan yang dipanaskan) (7).Sungguh, azab Tuhanmu pasti terjadi. (8) Tidak sesuatu pun yang dapat menolaknya.(9) "Pada hari (ketika) langit berguncang sekeras-kerasnya.(10) Dan gunung berjalan (berpindah-pindah)".

Alam bukan sekadar objek yang dikesampingkan apalagi dieksploitasi, melainkan ia  juga makhluk Allah  yang mesti disikapi dengan baik. Unsur-unsur alam termasuk api  memiliki keteraturan dan ketentuan-Nya. Karena itu, kewaspadaan terhadap api sejatinya tidak hanya dimaknai sebagai upaya menghindari dari bencana seperti kebakaran atau letusan gunung api, tetapi juga sebagai pengingat agar manusia tidak abai dalam  memperlakukannya. Menjaga sinergitas antara manusia dan alam adalah sikap bijak menuju Tuhan, Allah Swt. Wassalam.