Dari Arafah ke Kebun Sawit: Mendesak Transformasi Nilai Solidaritas dalam Ekonomi Petani Bangka Belitung

avatar HUMAS FDKI
HUMAS FDKI

82 x dilihat
Dari Arafah ke Kebun Sawit: Mendesak Transformasi Nilai Solidaritas dalam Ekonomi Petani Bangka Belitung

Oleh: Nurviyanti Cholid, Dosen   Bimbingan Konseling Islam, IAIN SAS Bangka Belitung

Setiap tahun tepat pada tanggal 9 Zulhijjah Hari Arafah menghadirkan pemandangan yang begitu kuat secara simbolik. Jutaan orang berkumpul di satu tempat yang sama, mengenakan ihram serupa, tanpa pembeda status sosial, jabatan, ataupun kekayaan. Semua larut dalam suasana yang menegaskan bahwa manusia pada dasarnya setara di hadapan Tuhan. Dalam Hadis Riwayat Muslim No. 1162, hari itu memang dimaknai sebagai momentum pengampunan dan terkabulnya doa. Namun lebih dari sekadar ritual spiritual, wukuf di Arafah juga menyimpan pelajaran sosial yang mendalam: tentang solidaritas, kebersamaan, dan kesadaran bahwa tidak ada satu pun manusia yang lebih tinggi dari yang lain. 

Sayangnya, semangat spiritual di padang Arafah hanya berhenti di ruang ibadah dan tidak benar-benar menjelma dalam kehidupan sehari-hari. Di Bangka Belitung, jarak antara nilai-nilai keagamaan dan realitas sosial masih tampak jelas. Banyak petani swadaya   masih harus menghadapi persoalan lama: informasi harga Tandan Buah Segar (TBS) yang tidak transparan, distribusi pupuk yang bermasalah, hingga posisi tawar yang lemah di pasar. Ketika harga jual turun di bawah biaya produksi dan lembaga lokal belum mampu melindungi petani, situasi ini dimanfaatkan oleh tengkulak, memicu konflik lahan, dan membuat masyarakat semakin apatis.

Melihat kondisi tersebut, persoalan ini sebenarnya tidak bisa hanya dijelaskan sebagai masalah ekonomi semata. Ada nilai-nilai sosial dan spiritual yang belum benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari. Dalam perspektif Bimbingan Konseling Islam (BKI), ketahanan masyarakat agraris dibangun melalui sikap saling mengevaluasi diri (muhasabah), memperkuat hubungan sosial (ishlah al-ijtima’i), dan tetap berikhtiar sambil berserah kepada Tuhan (tawakkal). Karena itu, perguruan tinggi dan para pemangku kebijakan perlu menghadirkan langkah nyata agar nilai-nilai tersebut tidak berhenti sebagai wacana, tetapi benar-benar terasa manfaatnya di tengah masyarakat.

Credit by AI

 

Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah menghidupkan kembali kelembagaan petani lokal sebagai bentuk "ihram ekonomi". Koperasi desa atau kelompok tani tidak boleh lagi cuma jadi pajangan papan nama atau syarat administratif demi berburu bantuan pemerintah. Lembaga ini harus pulang ke fungsi sejatinya: menjadi ruang transparansi harga dan pusat belanja kebutuhan tani secara kolektif. merupakan perwujudan konkret dari apa yang disebut sebagai "Ihram Ekonomi" sebuah kondisi di mana segala bentuk egoisme individualis (ananiah) ditanggalkan demi kemaslahatan jamaah (petani). Secara nyata, riset Tim Peneliti Universitas Sriwijaya (UNSRI) di Desa Kemuja pernah membuktikan bahwa koperasi yang dikelola dengan sehat mampu memangkas tengkulak yang eksploitatif, sekaligus mendongkrak keuntungan petani secara signifikan.

Kedua,   kita harus harus mampu mengadopsi dan mengintegrasikan filosofi lokal Melayu Bangka Belitung, yakni Falsafah  "Sepintal Pinang Seikat Sirih" dan memasukkan nya ke dalam jantung konseling komunitas.  Falsafah  "Sepintal Pinang Seikat Sirih" adalah bukti bahwa masyarakat kita sejak dulu mengutamakan saling ketergantungan dan keharmonisan. Tujuan  BKI hadir persis di titik ini yakni menjadi benteng penahan agar tekanan hidup tidak merusak tatanan sosial. Praktiknya pun bisa dibuat membumi mulai dari  Dosen, mahasiswa, dan tokoh adat dapat menginisiasi forum rembuk warga setiap kali musim panen usai. Desainlah forum ini sebagai ruang curhat dan muhasabah kelompok untuk membedah kecemasan ekonomi yang dihadapi warga. Kita harus memastikan stres finansial pasca-panen diurai sejak dini, sebelum ia telanjur berubah menjadi konflik domestik atau gesekan interpersonal di ruang-ruang desa. 

Langkah ketiga berkaitan dengan tanggung jawab moral kampus. Perguruan tinggi harus memposisikan diri sebagai katalisator gerakan di akar rumput. Program studi seperti Bimbingan dan Konseling Islam di Bangka Belitung memikul beban untuk menjembatani antara teori atau teks suci dengan realitas nyata yang dihadapi para petani di kebun sawit. Kampus harus menyudahi gaya pengabdian konvensional dan beralih ke pendekatan yang lebih membumi. KKN Tematik dengan tajuk "Arafah Desa" bisa menjadi terobosan segar. Di sana, mahasiswa tidak hanya mengecat pagar desa, melainkan fokus pada pendampingan psikologis petani, memetakan solusi tata niaga lokal lewat riset aksi, hingga mencetak kader desa yang mampu mengelola emosi warga berbasis spiritualitas.

Ikhtiar ini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan yang krusial. Dalam studi psikologi agama, Harold Koenig (2012) berulang kali mengingatkan bahwa religiusitas intrinsic bagaimana cara kita memandang ujian hidup secara teologis dan mempraktikkan kepasrahan yang aktif adalah benteng utama  untuk mencegah depresi, terutama pada masyarakat agraris. Maka, mengabaikan aspek psikososial dan spiritual dalam memberdayakan petani adalah sebuah kecacatan berpikir yang fatal.

Pada akhirnya, jarak geografis antara Padang Arafah di tanah suci dan hamparan kebun sawit di Bumi Serumpun Sebalai memang terbentang teramat jauh. Namun, bentangan jarak itu akan seketika menyusut jika kita berani menerjemahkan esensi kesetaraan dan solidaritas haji menjadi kebijakan desa, program nyata di kampus, serta denyut gotong royong sehari-hari. Tugas kaum akademisi hari ini bukan lagi sekadar mengunyah makna Arafah di atas kertas atau mimbar kuliah, melainkan turun ke bumi, menyentuh tanah, dan bergerak membersamai mereka yang berkeringat di garis depan.