FDKI Mengaji Goes to Pesantren: Dosen FDKI IAIN SAS BABEL Menjadi Narasumber Sosialisasi Pencegahan Kekerasan dan Penguatan Kebhinekaan

avatar HUMAS FDKI
HUMAS FDKI

46 x dilihat
FDKI Mengaji Goes to Pesantren: Dosen FDKI IAIN SAS BABEL Menjadi Narasumber Sosialisasi Pencegahan Kekerasan dan Penguatan Kebhinekaan

Bangka Barat, 27 Agustus 2026 — Pondok Pesantren Modern Uwais Al-Qorni Tempilang, Kabupaten Bangka Barat, menjadi tempat pelaksanaan kegiatan Sosialisasi Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan serta Penguatan Kebhinekaan di Lingkungan Satuan Pendidikan, Kamis (27/8/2026).

Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama FDKI IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung dengan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Bina Bangsa Kabupaten Bangka Barat. Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh Santri Pondok Pesantren Modern Uwais Al-Qorni Tempilang.

Sosialisasi menghadirkan dua narasumber, yakni Prof. Dr. Rusydi Sulaiman, M.Ag., Guru Besar Bidang Ilmu Pengkajian Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung, serta Gustin, M.Pd., Ketua Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung.

Dalam pemaparannya, Gustin membahas penguatan kebhinekaan melalui perspektif pemikiran Buya Hamka dalam karya Urat Tunggang Pantjasila. Ia menjelaskan bahwa kebhinekaan merupakan salah satu kekuatan penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Perbedaan suku, agama, budaya, bahasa, serta latar belakang sosial perlu dipahami sebagai kekayaan yang harus dirawat bersama, bukan sebagai alasan untuk menimbulkan perpecahan maupun kekerasan.

Menurut Gustin, lingkungan satuan pendidikan memiliki peran strategis dalam menanamkan sikap saling menghormati, menghargai perbedaan, membangun komunikasi yang sehat, dan menyelesaikan persoalan secara damai. Nilai-nilai tersebut penting bagi para santri agar mampu menjadi generasi yang berkarakter, terbuka, serta memiliki tanggung jawab dalam menjaga persatuan.

Sementara itu, Prof. Dr. Rusydi Sulaiman, M.Ag. menyampaikan materi bertajuk “Merawat Kebhinekaan dari Pesantren.” Ia menekankan bahwa pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga memiliki peran penting dalam membentuk sikap sosial, moral, dan kebangsaan para santri.

Prof. Rusydi menjelaskan bahwa upaya mencegah dan menanggulangi tindak kekerasan harus dimulai dari kesadaran bersama seluruh warga satuan pendidikan. Pesantren perlu menjadi ruang yang aman, ramah, dan mendidik, dengan mengedepankan keteladanan, dialog, kasih sayang, serta penghormatan terhadap martabat setiap individu.

Ia juga mengajak para santri untuk menjaga  kesehatan tubuh  atau juga fisik selain membekali diri dengan ilmu pengetahuan  dan kemudian santri harus berpikir positif  dan kemudian selalu berinovasi, menghormati orang tua dan juga guru yang telah memberikan bekal ilmu kepada mereka sehingga ilmu yang didapatkan menjadi sebuah keberkahan untuk menatap masa depan dalam semangat memperkuat peradaban Islam. Nilai-nilai lokal yag disebutkan nilai kearifan lokal di  pulau bangka yang telah diwariskan oleh para leluhur harus ditanamkan dalam jiwa  selain dalam bentuk norma keislaman dalam bentuk nilai tauhi, nilai syari'ah atau akhlak tasawuf. Dengan demikian, pesantren dapat terus berkontribusi dalam menciptakan generasi yang religius, berakhlak, cinta damai, dan menjunjung tinggi persatuan Indonesia.

Melalui kegiatan ini, para santri diharapkan memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai pentingnya pencegahan kekerasan sekaligus mampu menerapkan nilai-nilai kebhinekaan dalam kehidupan sehari-hari. Kerja sama antara FDKI IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Bina Bangsa Kabupaten Bangka Barat tersebut diharapkan dapat memperkuat iklim pendidikan yang aman, inklusif, dan menghargai keberagaman di lingkungan pesantren.