Oleh: Rusydi Sulaiman, Direktur Madania Center & Guru Besar dalam Kepakaran Bidang Pengkajian Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung.
Agak riskan dan mengkhawatirkan ketika pemuda muslim berusia 20-an tahun tidak mengenal huruf hijaiyah sebagai akrasa Arab dalam Al-Qur'an, sumber utama Agama Islam. Bila sebatas itu, maka dipastikan ia tidak bisa membacanya. Jangan-jangan pemuda dimaksud belum pernah sempatkan waktu membaca Al-Qur'an dalam keseharian hidupnya. Siapa yang salah kemudian?
Kalaulah religiusitas seseorang diukur dari keterpenuhan anutan norma agama, maka masih sangat banyak tugas orang tua dan pendidik terhadap anak atau peserta didik. Semestinya sejak usia balita, mereka sudah mulai dikenalkan agama dan nilai-nilai dasar dalam agama, baik nilai akidah, hukum Islam dan nilai akhlak. Tentu tidak sebatas pengenalan dan pengetahuan, tapi penunaian sebagai kewajiban dalam beragama. Bila nilai-nilai ajaran agama menjadi pijakan, maka hal tersebut akan lebih baik.
Apa yang semestinya dilakukan bila fakta tersebut terjadi di hampir semua PTKIN ( Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri) se-Indonesia? Berlomba-limba mengejar jumlah mahasiswa dengan kondisi tersebut atau tingkatkan kualitas pemahaman keagamaan mereka? Belum lagi sejumlah matakuliah strata-1 dengan bobot 140-an SKS dalam durasi 8 smester yang harus dibekali dengan target tertentu. Dikarenakan kuliah di PTKIN, maka dipastikan ada beberapa matakuliah tertentu yang bekal dasarnya pengetahuan agama. Al-Qur'an adalah standar awal, selanjutnya sumber-sumber lain. Epistemologi falsafi adalah model kajian lanjutan yang bersifat argumentatif, ditawarkan untuk pengembangan ilmu pengetahuan apapun bidang yang ditempuh ( scientific approach).
Menyikapi fakta diatas dan dalam rangka mengembalikan eksistensi PTKIN, pimpinan FDKI ( Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam) IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung membentuk unit non- formal keagamaan di bawah tanggung jawab Dekan, yaitu FDKI MENGAJI. Lembaga tersebut telah terbentuk sejak tahun 2022 (empat tahun lalu) atas gagasan dan keberanian moral beberapa dosen berlatar belakang pendidikan pesantren dan madrasah. Menurut mereka, langkah tersebut urgen dan menjadi tanggung jawab moral bersama sebagai sivitas akademika di PTKIN. IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung adalah satu-satunya PTKIN di Bumi Serumpun Sebalai.
FDKI MENGAJI bukan lembaga yang sekedar mengajar ngaji Al-Qur'an kepada mahasiswa dan mengenalkan huruf hijaiyah, melainkan memahami Kitab Suci tersebut. Maka hampir 200 mahasiswa smester 2 FDKI dari tahun ke tahun diseleksi kemampuan baca Al-Qur'an mereka. Berdasarkan hasil seleksi sesuai grade kemampuan, dibentuklah beberapa kelompok atau kelas. Selama satu smester genap tersebut, mereka dibimbing oleh 8-10 dosen pengelola FDKI MENGAJI, didampingi beberapa mahasiswa kelas mahir, yaitu mereka yang terampil membaca, penghafal Al-Qur'an dan kompeten berbahasa Arab. Sertifikat diberikan kepada mahasiswa yg lulus program tersebut dan menjadi syarat keikutsertaan ujian skripsi ( munaqosah).
Setelah beberapa tahun berlangsung, keberadaan kelembagaan FDKI MENGAJI cukup signifikan. Sangat disayangkan bila ada orang atau pihak tertentu yang menyepelekan dan mungkin menganggap remeh unit atau lembaga tersebut. "Na'uudzu billaahi min dzaalika", bila ada orang tua mahasiswa yang menyesalkan program FDKI MENGAJI hanya karena anaknya tidak lulus sehingga belum bisa ikut ujian skripsi.
Sekedar ingin meyakinkan bahwa FDKI MENGAJI merupakan lembaga non-formal bernuansa akademik sekaligus moral-spiritual, dikelola oleh beberapa dosen yang tulus berkhidmah untuk membentuk generasi unggul dan berperadaban. Tidak ada tendensi dan pretensi sedikitpun kecuali untuk kemaslahatan umat. Lembaga tersebut tidak juga FDKI ansich, akan tetapi bersifat lintas fakultas di kampus hijau tersebut karena libatkan satu-dua dosen fakultas lain. Dipastikan mereka betah--feeling at home. Suasana kekeluargaan pun terbentuk, menyatu menjadi satu keluarga kecil, bernama FDKI MENGAJI--not only physically, but psychologically. Namun tetap patuh kepada Dekan sebagai atasan langsung. Adakah lembaga semacam ini di PTKIN lain di negeri ini ? belum tentu atau sebaliknya eksis bahkan lebih maju karena aspek-aspek tertentu yang mendukung keberlangsungannya.
Tak sebatas itu, FDKI MENGAJI juga berekspansi. Terbukti beberapa kegiatan melekat kepadanya, seperti: FDKI MENGAJI Goes to School; FDKI MENGAJI Goes to TVRI dan FDKI MENGAJI Natak Kampung. Sebagai narasumber atau penceramah, dosen mesti siap mental untuk tampil selain penguasaan materi dakwah. Hampir semua pengelola FDKI MENGAJI mampu menghadapi beragam situasi masyarakat sebagai obyek dakwah, selaras dengan prinsip; "khaatibun-Naas 'alaa Qadri 'uquulihim".
Simpulannya, tidak mudah mendirikan sebuah lembaga atau satuan organisasi sekecil apapun apalagi mengelolanya secara terstruktur. Maka dari itu, diperlukan keterampilan tertentu dan oleh orang-orang tertentu pula. Semestinya lembaga tersebut diapresiasi, bukan dikesampingkan. Kalaulah ada kritik, maka sebaiknya hal itu bersifat konstruktif demi terwujudnya supremasi. Berharap lembaga apapun termasuk FDKI MENGAJI tetap eksis. Mempertahankan lebih sulit daripada membuat yang baru. FDKI, Semangat Baru Pasti Bisa. Wassalam.