Oleh: Rusydi Sulaiman, Pembina FDKI MENGAJI & Guru Besar dalam Kepakaran Bidang Pengkajian Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung.
Sangat lazim bila kita selalu bersyukur kepada Dzat Yang Maha Pencipta, Allah Swt., atas derajat kemakhlukan kita yang lebih sempurna dibandingkan makhluk lainnya—sangat-sangat sempurna (fī ahsani taqwīm). Terlebih bila dua potensi berupa akal dan kalbu diperkuat kadarnya, maka manusia akan lebih bernilai, bahkan di atas manusia lainnya.
Kenyataannya tidak demikian. Sebagian manusia tidak memanfaatkan kedua potensi tersebut. Jadinya, besar secara fisik, tetapi kosong akal; juga besar secara fisik, tetapi kosong jiwa. Kekosongan itu dipastikan menjerumuskan manusia hingga jatuh ke titik nadir peradaban (kal-bahāimi bal hum adhallu), bagaikan binatang, bahkan lebih hina. Bangsa Arab jahiliah sebelum Islam adalah gambaran sikap tersebut.
Selain masa muda dan kekayaan, kekosongan juga dapat membawa kepada kehancuran. Kekosongan terkadang membuat seseorang sombong dan merasa bisa. Orang tersebut pasti sulit diingatkan oleh siapa pun. Salah satu cirinya adalah kurang bertanya, tidak meminta pendapat orang lain, dan terlalu percaya diri (over-confident). Ia rentan marah bila dinasihati, karena orang tersebut merasa lebih tinggi dari orang lain.
Merasa bisa, hakikatnya tidak bisa dan tidak mengetahui sesuatu apa pun. Hanya saja, orang yang merasa bisa berusaha menutupi kelemahannya agar tidak diketahui orang lain. "Rajulun lā yadrī annahu lā yadrī, fahuwa jāhilun murakkabun" (seseorang tidak tahu bahwa ia tidak tahu; maka dia sangat bodoh). Kebodohan adalah penyakit masyarakat yang mesti diatasi. Akan menjadi masalah besar bila orang bodoh tidak merasa bodoh, tetapi ia merasa bisa sehingga tidak merasa perlu belajar lagi. "Qulūbunā ghulfun", hati kami sudah penuh, tidak perlu masukan apa pun. Orang yang merasa bisa juga dapat terjebak dalam sikap menutup diri dari kebenaran dan nasihat. Hal ini ditegaskan dalam QS. Al-Baqarah (2): 6)—Artinya: "Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman."
Pastinya sangat sulit mengatasi sikap merasa bisa, kecuali mengalah dan membiarkannya berlangsung hingga ia lelah dan berubah sikap menjadi lebih baik. "Tarkul-jawābi 'alal-jāhili jawābun" (meninggalkan jawaban terhadap orang bodoh adalah sebuah jawaban). Akan banyak waktu tersita bila ditanggapi, dan yang menanggapi juga ikut terjebak dalam kebodohan. Semestinya orang bodoh mengakui kelemahan dan keterbatasan dirinya, kemudian lebih banyak belajar dan membekali diri. Beberapa fakta mengindikasikan sikap merasa bisa. Pertama, seseorang meminta diundang sebagai narasumber seminar, padahal tema yang dibahas bukan bidang keahliannya; kedua, seseorang marah karena tidak dijadwalkan lagi menjadi khatib Jum’at, karena selama ini ia tidak kompeten; ketiga, seorang mahasiswa bernegosiasi dengan dosennya agar diberi nilai A (sangat memuaskan), padahal ia sering absen kuliah dan tidak memahami materi yang diajarkan, sementara dirinya sendiri bercerita bahwa ia pintar sekali; keempat, seseorang bercerita bahwa dialah satu-satunya orang yang mampu mengatasi masalah kawannya, akan tetapi ia sendiri bermasalah dan memiliki banyak masalah; kelima, seseorang menawarkan jasa kepada orang lain untuk mengerjakan sesuatu, padahal hasilnya tidak sesuai harapan karena sebenarnya ia tidak bisa, kecuali merasa bisa. Dikarenakan merasa bisa, ia marah saat ditegur orang lain atas kekurangan dirinya. Hal serupa dapat ditemukan dalam berbagai bentuk lainnya.
Tiada gunanya sikap merasa bisa, karena hal tersebut tidaklah baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Sikap demikian tidak mengundang simpati dan pelakunya juga tidak dihormati. Hampalah diri orang tersebut, karena fakta menunjukkan bahwa ia memang tidak mampu melakukan apa-apa sebagaimana yang ia yakini.
Singkatnya, janganlah merasa bisa bila sebenarnya kita tidak bisa. Hal itu tidak baik dilakukan. Menyadari adanya ketidakmampuan dalam diri kita akan lebih baik dan bijak. Tidak mudah untuk menjadi bisa, maka tidaklah perlu merasa bisa. Akan lebih baik dan dihormati bila setiap orang bersikap biasa dalam kesehariannya. Wassalam.