Oleh: Rusydi Sulaiman, Direktur Madania Center & Guru Besar dalam Kepakaran Bidang Pengkajian Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung.
Sebagai makhluk di muka bumi, manusia lazimnya bersyukur atas penciptaan dirinya, apalagi anugerah dua potensi akal dan kalbu yang melebihi makhluk lain.
Apakah demikian? Faktanya, masih banyak yang tidak dan kurang bersyukur kepada Tuhan, Allah Swt. Mungkin mereka belum memahami posisi ke-makhluk-annya sehingga tidak bersikap baik. Tidak bersyukur mengindikasikan adanya sikap kufur. Istilah kufur secara mendasar mengandung pengertian penegasan wujud Tuhan,; tidak beragama sehingga tidak menunaikan ajaran agama tersebut ( kufrul-'Aqiidah), juga bermakna tidak bersyukur atas nikmat yang telah Allah anugerahkan ( kufrun-Ni'mah).
Terkadang kita diperlihatkan fenomena orang beragama yang kurang bersyukur; bersuara keras, marah besar bahkan mencaci maki Tuhan karena kecewa dan atau keinginannya tak terpenuhi. Misalnya, seorang ibu rumah tangga menyebut kata kotor karena hujan lebat padahal ia baru saja mencuci pakaian dan akan menjemurnya; seorang isteri marah dan mengusir suaminya karena hanya berikan sedikit uang sepulang dari pekerjaan; seorang kaya enggan bersedekah sedikit pun karena ia khawatir hartanya berkurang; banyak lagi fakta serupa yang mengusik jiwa dan pikiran kita.
Sangat perlu mengambil pelajaran dari pengalaman hidup orang-orang yang terbatas, baik fisik maupun mental ( mental-disorder), namun mereka tetap bersyukur dengan cara berupaya semaksimal mungkin dalam hidupnya. Tidak sedikit yang terampil dan menghasilkan banyak uang; tidak sedikit yang pintar/ pandai sehingga dikenal; tidak sedikit yang menjadi orang bijak sehingga sangat disegani. Mereka faktanya mengalahkan orang normal. Mengapa? Pastinya karena mereka sangat bersyukur dalam hidupnya.
Intinya, manusia harus bersyukur, sebagaimana ditegaskan dalam QS.Luqman (31):12. Penganugerahan hikmah (kebijaksanaan) kepada Luqman agar ia bersyukur kepada Allah. Bila bersyukur, sesungguhnya manusia bersyukur untuk dirinya sendiri.
Artinya: "Sungguh, Kami benar-benar telah memberikan hikmah kepada Luqman, yaitu, “Bersyukurlah kepada Allah! Siapa yang bersyukur, sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri. Siapa yang kufur (tidak bersyukur), sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.”
Kata,"Syukur" selalu tertulis dalam bentuk fi'il Mudhaari' (kata kerja sekarang), yaitu: "yasykuru" menunjukkan proses, selalu dilakukan, dan juga dianjurkan untuk dilakukan. Berbeda dengan kebalikannya, kata, "kufur", selalu ditulis dalam bentuk "fi'il maadhin", yaitu: "kafara", berarti telah bersikap kufur, menunjukkan bahwa kala itu seseorang pernah kufur kepada Allah Swt. Maka dari itu, ia dianjurkan selalu bersyukur. Adapun kalimat,"fainnamaa yasykuru linafsihi", berarti sesungguhnya manusia bersyukur untuk dirinya sendiri. Sudah selazimnya manusia bersyukur apalagi dalam kondisi yang sangat terbatas.
Syukur adalah bagian dari pujian. Pujian itu pasti dilakukan oleh orang-orang yang bersyukur (al-Hamdu mutadhamminun lisy-Syukri, bal huwa ra'suhu). Bersabda Rasulullah: "al-Hamdu Ra'susy-Syukri, lam Yasykur Allah 'Abdun, lam Yahmadhu" (pujian adalah puncak syukur. Bil seorang hamba belum bersyukur kepada Allah, berarti ia belum memuji-Nya). Allah sebagai "Haqiiqun bil-Hamdi", maksudnya Allah memiliki hak dipuji sebagai Dzat yang telah menciptakan manusia.
Bila ayat tersebut diakhiri dengan dua kata; ghaniyyun dan hamiidun, maksudnya Allah tidak membutuhkan selain-Nya, dan juga Allah sebagai Dzat Yang Dipuji oleh orang-orang yang senantiasa bersyukur. "Lianna manfa'atahu al-Latiy hiya irtibaathul-'Atiid wastijlaabul-Maziid maqshuurah 'alaihaa" (karena kebermanfa'atannya berupa keterkaitan sesuatu yang ada dan sesuatu yang ditambahkan, terbatas padanya).
Intensitas kebaikan dan selalu syukur yang dilakukan Luqman dalam keseharian hidupnya pasca penganugerahan hikmah (kebijaksanaan) kepadanya menjadi teladan bagi kita. Luqman adalah orang biasa yang diangkat derajat kemanusiaannya melebihi manusia umumnya--hidup di masa Daud a.s. Maka dari itu, ketokohan dirinya perlu diteladani dengan cara bersyukur--selalu bersyukur. Wassalam.