Oleh: Rusydi Sulaiman, Alumni 86 KMI Pondok Modern Darussalam Gontor & Guru Besar dalam Kepakaran Bidang Pengkajian Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung.
Satu Abad Gontor: Menuju Peradaban Mulia
Satu abad atau seratus tahun bukan waktu pendek bagi sebuah lembaga pendidikan semacam pesantren. Umumnya, ukuran tersebut diberlakukan bagi siklus sebuah negara dan hubungannya dengan kelangsungan peradaban manusia di muka bumi.
Walaupun demikian, sudah hadir beberapa pesantren tua as an indigenous institution, lembaga khas Nusantara di Pulau Jawa yang hingga kini masih eksis, seperti Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Pondok Pesantren An-Nuqayyah Sumenep Madura, Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, Pondok Pesantren Lirboyo, termasuk Gontor—saat ini bernama Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo. Para pendirinya, TRIMURTI, merupakan keturunan Sulaiman Jamal yang asal-usulnya dari Kesepuhan Cirebon.
Bila terdapat lima fase menurut Ibnu Khaldun terkait keberlangsungan negara, yaitu pembentukan, perkembangan, kemajuan, kemunduran, dan kehancuran, dalam kurun seratus tahun, maka boleh juga menjadi pijakan sejarah pengelolaan pondok pesantren di Nusantara. Pondok Modern Darussalam Gontor telah melalui fase itu walaupun tidak sepenuhnya tepat. Pastinya, banyak pengalaman sejarah yang telah dialami, baik suka maupun duka. Idealisme dan pengorbanan TRIMURTI benar-benar menyentuh para penerusnya sehingga mereka bergerak secara terstruktur dalam mengelola Gontor. Tibalah seratus tahun usia pesantren tersebut.
Peringatan, bukan Perayaan
Setelah seratus tahun bukanlah waktu untuk mulai bersenang-senang sebagaimana dilakukan pihak tertentu, melainkan waktu bermuhasabah atas perjalanan panjang, lalu melangkah pasti menuju peradaban mulia.
Jauh sebelum Indonesia merdeka, Gontor telah menanamkan sistem pendidikan modern. Setidaknya, penerapan dua bahasa asing (Bahasa Arab dan Bahasa Inggris) dan hidup berorganisasi mencirikan hal tersebut. Beberapa elemen menjadi pijakan untuk pendisiplinan santri dan keluarga pondok, penguatan kepribadian, dan integritas diri. Maka, di awal abad kedua ini, Gontor akan melakukan penguatan di segala bidang kehidupan.
Falsafah dan Idealisme
Ketika Kiyai Sahal, TRIMURTI tertua, menegaskan bahwa pendidikan adalah yang utama, maka upaya terstruktur mulai dilakukan. Dua adiknya, Kyai Zarkasyi dan Kyai Zainuddin Fannanie, mendapat tugas masing-masing untuk pengembangan kelembagaan Gontor yang selanjutnya dikenal sebagai Pondok Modern Darussalam Gontor dengan kurikulum KMI (Kulliyatul Muallimin Islamiyah) yang menerapkan dua bahasa asing.
Namun, lembaga khas Nusantara tersebut tidak semata-mata mewariskan bangunan, kurikulum, dan sistem pendidikan, melainkan nilai, jiwa (ruh), tradisi, dan prinsip tertentu sebagai pijakan dasar, disebut falsafah dan idealisme pondok pesantren.
Pertama, untuk membentuk pribadi santri yang berbobot dan berintegritas tinggi, terdapat lima motto yang ditanamkan, yaitu: berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, berpikir bebas, dan berjiwa besar.
Terasa tidak cukup empat motto, lalu beberapa tahun terakhir ditambahkan motto kelima, yaitu berjiwa besar. Bila motto berbudi tinggi sebagai keindahan bunga, maka berjiwa besar adalah akar. Motto kelima tersebut tidak bersifat kasatmata, akan tetapi menjadi penentu kokoh atau tidaknya pohon kehidupan.
Berjiwa besar mengandung makna bahwa seseorang memiliki kemampuan kejiwaan tertentu melampaui dirinya sendiri. Pastinya, ia tidak egois, bekerja tidak untuk kepentingan pribadi, tak tebersit dalam dirinya untuk mengambil jabatan tertentu, apalagi ngemis-ngemis minta jabatan, menghindari untuk dipuji, dan tidak mengedepankan dirinya. Orang seperti ini juga berusaha menjaga kehormatan diri, dan ia juga terus berjuang tidak hanya untuk dirinya sendiri, melainkan kepentingan yang lebih besar. Motto kelima tersebut menjadi pelengkap sehingga santri akan menjadi alumni yang tegar bila terjun di tengah masyarakat untuk berkhidmah.
Kedua, Panca Jiwa atau ruh yang ditanamkan, yaitu: keikhlasan (tulus tanpa tendensi), kesederhanaan (sederhana bukan berarti miskin), mandiri (tidak menggantungkan diri pada orang lain dan sangat percaya diri), ukhuwah Islamiyah (togetherness), dan berjiwa bebas (merdeka, bebas berpikir dan menentukan sikap atas dasar iman, ilmu, dan akhlak mulia).
Ketiga, tradisi pesantren. Gontor membentuk lingkungan pesantren sebagaimana kehidupan keluarga dan penuh dengan kedisiplinan. Rutinitas keseharian santri terjaga di bawah pembinaan para senior yang bertanggung jawab kepada bagian pengasuhan santri (Qismur-Ri'ayah). Wali santri tinggal menanggung biaya hidup putra-putri mereka selama mondok di pesantren dan memasrahkannya dengan ketulusan hati dan kebersahajaan serta berdoa. Ada mekanisme tertentu yang mengatur hubungan wali santri dan pihak pesantren.
Adapun keempat adalah prinsip. Secara umum, pondok pesantren sudah berada di tengah antara dua hal, yaitu: "al-Muhāfazhah 'alal-Qadīmiṣ-Ṣāliḥ wal-Akhdzu bil-Jadīdi al-Aṣlaḥ" (memelihara nilai lama yang baik dan mengadopsi nilai baru yang lebih baik).
Adapun di usianya memasuki awal abad kedua, memiliki prinsip baru, yaitu: "al-Muhāfazhah 'alāl-Qiyaam, wat-Taghyīr ilal-Kamāli" (memelihara kebertahanan atau prestasi yang telah dicapai dan berubah menuju kesempurnaan).
Pastinya, Gontor tidak boleh stagnan lagi, melainkan melangkah lebih dinamis dengan perangkat yang relatif sempurna.
Menuju Peradaban Mulia
Tidaklah sama orang yang berperadaban dengan yang tidak berperadaban. Begitu juga sebuah lembaga pendidikan. Berperadaban maksudnya berpendidikan (educated), melekat kepadanya Ihsan sebagai pijakan etik tertinggi dalam diri manusia.
Gontor berobsesi menggapai fase tersebut dalam keseluruhan aspek kelembagaan—seribu Gontor dengan karakteristiknya sendiri. Gontor, dari Nggon Kotor menjadi inspirator.
Bila Ibnu Khaldun menggunakan al-Madīnah al-Fādhilah untuk negara ideal, maka Gontor juga berpijak pada predikat tersebut. Istilah tersebut berarti masyarakat Madani (civil society), masyarakat berperadaban. Tak sebatas itu yang diobsesikan, tapi berperadaban mulia.
Mudah-mudahan Gontor mampu. Presiden Prabowo pun memberikan apresiasi.
Gontor untuk Indonesia.
Wassalam.