H. Sedun dan Fobia Rugi Kurma

avatar HUMAS FDKI
HUMAS FDKI

515 x dilihat
H. Sedun dan Fobia Rugi Kurma
Ilustrasi

Oktarizal Drianus 
(Kaprodi Psikologi Islam/Tim Behavioral Science Layanan Psikologi Psychosophia Prodi Psikologi Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam)

Kurma Mahal Berujung Bencana 

Pagi itu, udara di teras rumah Guru Sailan terasa getir. Bukan karena kopi yang pahit, melainkan aroma anyir dari sekeranjang kecil kurma yang dibawa Haji Sedun. Kurma impor Yaman, super kualitas tinggi, kini diselimuti lapisan jamur kelabu kehijauan. Wajah Haji Sedun sendiri tampak seperti buku laporan kerugian yang tak pernah ingin ia buka.

"Assalamualaikum, Guru. Ini, coba Guru lihat," keluhnya, nadanya dipenuhi sesal. 
"Kurma terbaik untuk Ramadan, akhirnya membusuk. Saya rugi total, Guru." 
"Kenapa bisa begini, Haji?" tanya Guru Sailan, menatap kurma itu dengan prihatin. 
"Kurma yang kau banggakan itu seharusnya tahan berbulan-bulan."

Haji Sedun pun menarik napas panjang. Awal bulan lalu, ia menggelontorkan modal besar, membeli 100 kg kurma premium seharga Rp 50 ribu per kilo. Harapannya, menjelang Idul Fitri, ia bisa melipatgandakan untung.

"Malang tak dapat ditolak, Guru. Seminggu kemudian, badai harga datang. Pasokan kurma Saudi membanjir pasar, harganya anjlok sampai Rp 40 ribu per kilo. Stok saya macet total!"

"Saat itu," lanjut Haji Sedun, "secara logika, saya punya dua jalan. Jalan Pertama: Jual cepat pada harga Rp 45 ribu per kilo. Saya memang rugi Rp 500 ribu, tapi saya selamatkan sisa modal Rp 4,5 juta dan bisa segera pindah ke bisnis lain. Jalan Kedua: Tahan! Simpan di gudang. Berharap keajaiban datang dan harga kembali ke harga modal, Rp 50 ribu."

Guru Sailan meletakkan cangkirnya perlahan. "Jalan mana yang kau pilih, Haji Sedun?"
Haji Sedun menundukkan kepala, menggesek-gesekkan telapak tangannya yang basah. "Saya memilih menahan, Guru. Saya tidak sanggup melihat angka Rp 500 ribu itu dicatat sebagai 'kerugian riil' di buku harian saya. Rasanya sakit sekali di dada. Saya pikir, lebih baik menunggu, setidaknya kerugian itu belum final."

"Dan hasilnya," Guru Sailan menunjuk kurma busuk itu, "kau tidak cuma rugi Rp 500 ribu, tapi rugi bersih Rp 5 juta, ditambah biaya sewa gudang dan kerugian waktu. Kau rela rugi besar demi menghindari kerugian kecil."

Loss Aversion--Kahneman dan Tversky

Guru Sailan memandang Haji Sedun dengan tatapan yang penuh pemahaman, seolah sedang membaca sebuah paper psikologi yang berjalan. " Fenomena ini bukan isapan jempol, Haji Sedun, tindakanmu itu adalah monumen bagi salah satu kelemahan terbesar manusia modern, loss aversion (Fobia Kerugian)."

Konsep ini adalah pilar dari Prospect Theory, yang dikembangkan oleh dua peraih Nobel, Daniel Kahneman dan rekannya, Amos Tversky. Mereka menemukan bahwa secara psikologis, kerugian memiliki dampak emosional dua kali lipat lebih kuat daripada keuntungan dengan nilai yang setara. Bagi pembaca yang ingin mendalami, teori ini dijelaskan secara rinci dalam buku Kahneman yang berjudul Thinking, Fast and Slow (2011), atau pada paper awal mereka, 'Prospect Theory: An Analysis of Decision under Risk' (1979).

Begini loss aversion itu: 
1.Asimetri Rasa Sakit: Kehilangan Rp 500 ribu terasa jauh lebih menyakitkan daripada rasa senang saat mendapatkan Rp 500 ribu. 
2.Rasionalitas vs. Emosi: Secara rasional, menjual kurma pada harga Rp 45 ribu adalah langkah untuk meminimalkan kerugian dan menyelamatkan modal. 
3.Jebakan Loss Aversion: Emosimu menolak mencatat kerugian Rp 500ribu. Pikiran keliru beranggapan, "Selama kurma ini masih ada, kerugian itu belum final." Karena tidak tahan melihat kerugian kecil, kita justru mengambil risiko yang lebih besar dan akhirnya menderita kerugian total. 

Inilah ironinya, manusia rela rugi Rp 5 juta demi menghindari rasa sakit psikologis senilai Rp 500 ribu. Loss Aversion membuatmu buta terhadap kerugian yang pasti membesar di masa depan.

Inti dari prospect theory, khususnya loss aversion adalah asimetri yang kejam dalam emosi kita, yaitu: Rasa sakit akibat kehilangan (kerugian) itu dua kali lipat lebih kuat daripada rasa senang saat mendapatkan (keuntungan), meskipun nilainya sama."

Guru Sailan melanjutkan, "Dalam kasusmu, kerugian Rp 500.000 terasa begitu menyakitkan sehingga akalmu bernegosiasi. Otakmu berkata, 'Tahanlah! Selama kau belum menjual, kerugian itu hanyalah ilusi.' Ini adalah jebakan. Secara rasional, menjual rugi Rp 500.000 adalah langkah terbaik untuk meminimalkan . Namun, emosi memaksa Haji Sedun mengambil risiko yang lebih besar dan fatal."

"Kau memilih ilusi harapan palsu daripada menerima kenyataan pahit. Inilah yang terjadi ketika kita buta terhadap kerugian besar di masa depan karena terlalu fokus dan takut pada kerugian kecil hari ini."

Manusia Lebih baik Rugi daripada Malu

Guru Sailan menegakkan duduknya. "Disinilah behavioral fiqh harus menjadi penawar. Akal kita sering dikalahkan oleh emosi dan fobia rugi. Namun, kita memiliki kaidah fikih yang berfungsi sebagai cognitive framework untuk mengunci akal pada keputusan yang rasional. Untuk mengatasi jebakan loss aversion, fikih memberikan prinsip yang jelas, tegas, dan tanpa kompromi emosional: "اَلضَّرَرُ يُزَالُ” ,"Kerugian itu harus dihilangkan."*

"Kaidah ini menuntut kita untuk bertindak proaktif dan rasional dalam menghadapi kerugian yang sudah pasti terjadi. Fikih tidak mengizinkan penundaan yang bisa menyebabkan kerugian membesar, seperti membiarkan kurma busuk demi menunggu harga modal kembali. Jika kerugian sudah tidak terhindarkan, Kaidah ini memerintahkanmu memilih opsi yang meminimalkan kerugian."

Guru Sailan diam. Kehangatan teh yang disajikan Haji Sedun di awal tadi telah lama hilang, menyisakan dingin yang menguap dari porselen. Di antara pot-pot bunga yang basah disiram bayangan matahari sore, hanya bunyi sendok kecil yang beradu dengan cangkir menjadi satu-satunya suara yang mengisi teras. Haji Sedun, setelah menyimak kaidah yang begitu rasional, kini memandangi keranjang kurma busuk di depannya. Matanya tak lagi menampilkan kemarahan karena rugi, melainkan kesedihan yang hening.

"Rupanya," kata Haji Sedun pelan, suaranya bergetar tipis, "lebih sulit menjual rasa malu kita, Guru, daripada menjual kurma busuk itu sendiri."

Guru Sailan tidak menjawab. Ia hanya mengangguk tipis, mengisyaratkan bahwa ia paham. Semua Fikih, semua ilmu perilaku yang rumit, pada akhirnya kembali pada satu titik: betapa rentan dan lucunya hati manusia ini di hadapan kerugian sekecil apa pun, dan betapa kita sering kali, tanpa sadar, menggali lubang yang lebih besar hanya karena takut menoleh ke belakang. Malam pun turun, menyelimuti Haji Sedun dan Guru Sailan dalam nuansa senja yang sama.

*) kaidah fikih yang digunakan hasil diskusi dengan K.H. Mursyidul Wildan