MENIKMATI PUASA

avatar HUMAS FDKI
HUMAS FDKI

44 x dilihat
MENIKMATI PUASA
Prof. Dr. Rusydi Sulaiman, M.Ag.

Oleh: Rusydi Sulaiman, Guru Besar dalam Kepakaran Bidang Pengkajian Islam (Islamic Studies) IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung & Sekretaris Dewan Pembina Yayasan Pon Pes Al-Islam Kemuja Bangka

Secara normatif puasa adalah menahan diri dari makan, minum dan hal-hal  yang membatalkan dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun idealnya tidak demikian, karena sesungguhnya makna puasa tidak sebatas itu. Yang diobsesikan orang tertentu adalah hakikat puasa.

Puasa dimaksud bukan puasa biasa (shiyaam) sebagaimana disebut dalam QS.Al-Baqarah (2):183,  tetapi puasa dengan maksud menahan diri dari hal-hal yang kurang layak ('amma laa yaliik), seperti yang dilakukan Siti Maryam (QS.Maryam (19):26, puasa menahan diri, tidak berbicara kepada siapapun atas tuduhan yang tidak beliau lakukan.

Begitu puasa disimpulkan sebagai ibadah yang luar biasa, berbeda dengan ibadah umumnya. Dalam potongan  sebuah Hadits Qudsi dari Abi Hurairah, Allah tegaskan perihal tersebut; "Kulli "Amalibni Aadama lahuu illash-Shiyaami, fainnahuu liy wa Anaa Ajziy bihii, wash-Siyaamu junnatun" (Setiap perbuatan anak Adam baginya kecuali puasa, maka sesungguhnya puasa  itu untuk ku, dan Aku memberi pahala langsung atas  perbuatan itu. Puasa adalah perlindungan). Artinya ibadah tersebut sangatlah privat menyangkut hubungan bathin seorang hamba dengan Tuhan. Sedang berpuasa atau tidak berpuasanya seseorang tidak selalu diketahui orang lain, terkadang disembunyikan. Agak berbeda memang puasa dari ibadah lainnya karena untuk berpuasa tidak diperlukan tempat khusus seperti shalat di masjid atau tempat tertentu,  dan juga ibadah haji yang berlokasi di Mekkah. Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan sepanjang hari dengan ketentuan tertentu pastinya memerlukan ketahanan dan keteguhan diri. Bila tidak, maka puasa menjadi tidak bermakna.

Sejarah Puasa. Puasa dalam pengertian menahan diri dari hal tertentu dan sebaliknya untuk tujuan tertentu sudah biasa dilakukan sebagian orang. Berdasarkan QS.Al-Baqarah (2):183, memang diwajibkan puasa kepada orang-orang mukmin saat ini, dan juga atas orang-orang terdahulu. Selain di Bulan Ramadhan, puasa wajib lainnya di waktu tertentu. Nabi-nabi tertentu juga berpuasa di sela-sela kehidupannya di bumi; Daud as., Musa as. dan juga Muhammad Saw. Dalam agama lain dan aliran kepercayaan tertentu  juga ada puasa dalam versi berbeda. Misalnya "mutih"--tidak makan hewan berdarah dalam waktu tertentu. Fenomena vegetarian mirip berpuasa, yaitu menahan diri--tidak mengkonsumsi selain sayur-sayuran. Namun puasa Ramadhan yang kemudian membedakan dengan puasa lainnya, berlaku secara general atas umat Islam, tinggal bagaimana mereka menyikapi pemberlakuan ibadah di bulan mulia tersebut.

Secara normatif syari'ah, awal penetapan puasa Ramadhan  adalah pada Bulan Sya'ban tahun ke-2 Hijriyah berdasarkan ru'yatul-Hilal. Bila belum memenuhi, kemudian Rasulullah perintahkan untuk menyempurnakan (istikmal) hingga 30 hari. Beberapa pendapat ulama belakangan muncul terkait mula puasa Ramadhan dan juga penentuan awal lebaran (Bulan Syawal).

Menikmati Puasa. Senang atau sebaliknya tidak senang seseorang terhadap kehadiran ramadhan dimana ada kewajiban puasa tergantung kedalaman keimanannya. Orang yang tidak beriman pasti menolak; orang yang tipis iman (sekedar beragama) agak gelisah dan kurang senang; dan orang yang kuat imannya sangat senang dan menyambut ramadhan dengan senang hati. Orang ketiga tersebut berusaha menikmati Puasa. Ibadah tersebut tidak sebatas pemenuhan normatifitasnya melainkan ia sudah terbiasa puasa. Dalam tahapan seperti ini, seseorang menjadikan puasa sebagai momentum intensifikasi ibadah. Ia dipastikan berusaha meningkatkan kualitas dirinya di hadapan Allah.

Menikmati berarti merasakan saat beribadah-- memperkuat hubungan bathin dengan Dzat yang Maha Suci. "an Ta'budallah ka'annaka Taraahu, fain lam Takun Taraahuu, fainnahuu Yaraaka" (Beribadahlah  seakan akan kamu melihat Allah. Dan apa bila kamu belum melihat-Nya, maka Allah   melihat mu). Melihat tidak secara kasat mata, tapi melihat dengan mata bathin (bashiirah). Beberapa istilah dalam perspektif sufi dapat digunakan, yaitu:  musyaahadah  dan madzaaqah--keduanya mengindikasikan adanya ketajaman rasa dan benar-benar merasakan adanya hubungan kuat antara hamba sebagai makhluk  dan Tuhan sebagai al-Khaaliq.

Meneladani Orang Bijak. Apapun yang telah dicontohkan oleh orang-orang bijak se-kelas nabi dan rasul tentang pengalaman berpuasa selalu saja  menjadi pijakan bagi generasi berikutnya, yaitu para sahabat , taabi'iin, taabi'it-Taabi'iin dan ulama (as-Salafush-Shaalih). Hendaknya pengalaman itu juga perlu kita teladani. Sangat ringan bila seseorang hanya menunaikan puasa Ramadhan tanpa berupaya menikmati ibadah tersebut. Lagi-lagi puasa lain yang mungkin belum pernah ia coba. Kekuatan kepribadian dan integritas diri juga disebabkan oleh olah bathin seperti puasa. Sekali lagi, puasa untuk tujuan tertentu. Jadi selain proses akal (objektifikasi), proses penguatan bathin pun sangat penting. "shuumuu Tashihhuu" (Berpuasalah, maka kalian akan sehat). Mari menikmati Puasa. Wassalam.