H. Sedun dan Lalat Toilet

avatar HUMAS FDKI
HUMAS FDKI

619 x dilihat
H. Sedun dan Lalat Toilet

Oleh : Oktarizal Drianus (Kaprodi Psikologi Islam-Layanan Psikologi Psychosophia, Prodi Psikologi Islam, FDKI)

Di kompleks masjid kampung, Guru Sailan sering memperhatikan satu masalah kecil yang tak kunjung hilang: toilet laki-laki selalu kotor. Meskipun spanduk "Kebersihan Sebagian dari Iman" sudah usang, lantai toilet selalu basah oleh cipratan. 

Suatu sore, Guru Sailan berpapasan dengan H. Sedun, yang baru keluar dari toilet sambil menggerutu. "Astaga, Guru! Kenapa sih jama’ah kita ini? Sudah tahu kebersihan itu wajib, kenapa mereka malas sekali menjaga toilet? Apa imannya kurang?" 

Guru Sailan tersenyum lembut. "Sabar, Haji Sedun. Mungkin masalahnya bukan pada iman atau niat. Mungkin, desainnya yang membuat kita semua jadi 'malas' secara tidak sengaja." 

"Desain?" Haji Sedun mengernyit. 

"Benar. Coba lihat," ujar Guru Sailan sambil menunjuk ke urinoir. "Bagaimana jika kita pasang stiker lalat kecil tepat di tengahnya?" 

Haji Sedun tertawa terbahak-bahak. "Lalat? Guru Sailan bercanda! Itu hanya akan jadi bahan olok-olok anak-anak!" 

Namun, Guru Sailan tetap yakin. Seminggu kemudian, lalat itu terpasang. Dan keajaiban perlahan terjadi: lantai toilet mulai kering. Cipratan berkurang drastis. Bahkan Haji Sedun yang skeptis pun mengakui, "Aneh sekali, Guru. Kenapa orang tiba-tiba mau disiplin hanya karena gambar lalat?" 

Tiba-tiba Hj. Acit, istri H. Sedun, ikut bergabung di suatu sore. "Saya juga teringat, Guru. Waktu ke luar negeri kemarin, di kloset jongkok perempuan di bandara, saya lihat ada stiker bunga yang cantik. Saya jadi ekstra hati-hati menyiramnya, tidak mau mengotorinya. Apa itu juga trik?" 

"Tepat sekali, Hj. Acit," jawab Guru Sailan. "Ini bukan sihir, ini ilmu perilaku manusia." 

Guru Sailan merangkul Haji Sedun. "Haji, kamu langsung menyalahkan jamaah atas keburukan akhlak. Itu adalah kecenderungan manusia! Padahal, masalah utamanya adalah Goal Conflict (konflik tujuan). Kita ingin cepat selesai, tapi juga ingin bersih. Tanpa sadar, naluri kita memilih jalur mental paling mudah, dan itu malah menghasilkan kekotoran dan tidak efektif." 

"Stiker lalat dan bunga itu adalah Nudge (dorongan halus)—sebuah sentuhan halus tanpa paksaan. Lalat bekerja pada naluri target pria yang mudah tertantang. Bunga bekerja pada sensitivitas estetika wanita yang ingin menjaga keindahan. Keduanya membuat kita fokus dan peduli."

 "Maka, apa yang kita lakukan di sini adalah dakwah melalui desain perilaku," lanjut Guru Sailan dengan nada hikmat. "Dakwah itu bukan hanya soal ceramah. Dakwah juga adalah ketika kita menciptakan lingkungan yang membuat orang secara otomatis memilih tindakan yang benar. Mendorong halus dan menciptakan arsitektur perilaku. Kita menggunakan ilmu ini untuk memastikan kebersihan, yang merupakan bagian dari iman, terwujud dengan cara yang paling efektif." 

Guru Sailan menambahkan, bahwa praktik lalat toilet (urinal flies) ini bukan fiksi, melainkan solusi nyata yang pertama kali diterapkan seorang manajer renovasi di Bandara Schiphol Amsterdam, mengurangi cipratan hingga 80% dan biaya pembersihan toilet sebesar 8%. Lalat memiliki konotasi tidak hiegines dan tidak membuat orang merasa saat mengarahkannya. 

"Haji Sedun, kamu tidak sendirian. Kita semua membawa bibit-bibit bias kognitif dalam pikiran kita. Inilah yang dipelajari dalam ilmu Behavioral Science," kata Guru Sailan. "Ilmu ini meyakini kita sering membuat kesalahan (Homo Sapiens). 

Pengakuan Behavioral Insight dan Kemungkinan Baru 

Pengakuan terhadap ilmu ini sangat besar. Hadiah Nobel Ilmu Ekonomi dianugerahkan kepada pelopornya, Daniel Kahneman (2002) dan Richard Thaler (2017). Tentunya, karena membawa wawasan ilmu perilaku (behavioral insight) ke dalam penerapan bidang ekonomi. Wawasan perilaku ini tidak hanya fokus pada riset-riset JDM (Judgement and Decision Making) yang benar, melainkan apa kecenderungan alamiah psikologis yang melahirkan keputusan yang bias kognitif dan heuristik, Thaler menyebutnya misbehave. Secara ringkas, dalam kajian behavioral insight, bias kognitif adalah kesalahan sistematis (systematic error) yang menyimpang dari rasionalitas baik dalam pengambilan keputusan maupun penilaian. Sedangkan heuristic (heuristics) adalah jalan pintas mental (mental shortcut) yang digunakan otak untuk membuat Keputusan, menilai probabilitas, bahkan memecahkan masalah secara efisien dan cepat. Nanti, jika nafas menulis panjang, saya berjanji akan menjelaskan landasan teoretis dan senarai riset-riset di bidang behavioral insight di ruang yang mungkin lebih serius. 

Di belahan dunia, kontribusi wawasan perilaku di bidang ekonomi dan finansial, layanan publik, kesehatan, politik. Mulai dari kebijakan mengenai pajak, dana pensiun, donor organ, kampanye kesehatan, perilaku ketika pandemi covid-19, produktivitas karyawan, investasi dan bisnis, serta perilaku politik dari kampanye sampai desain kebijakan andalan. Bahkan, ratusan think tank behavioral insight tersebar di seluruh dunia di bidang layanan dan kebijakan publik dari mulai perusahaan start up sampai raksasa, dari keputusan pribadi sampai tim khusus presiden, misalnya hampir lebih 20 negara termasuk Inggris, Amerika Serikat, Australia, Perancis, Jerman, Belanda dan lain-lain. 

Sambil duduk santai Guru Sailan menatap H. Sedun dengan penuh harap. "Kini, kita bisa melangkah lebih jauh. Jika Behavioral Insight mampu menjadi Behavioral Economics yang diganjar Nobel, Omong-omong kita pun bisa melihat lahirnya bidang baru: Aha! Fikih Perilaku (Behavioral Fiqh)? atau apa saja. Intinya, pendekatan ini mengintegrasikan wawasan perilaku kontemporer dengan Qawā'id Fiqhiyyah (Kaidah Fikih) sebagai kerangka kerja kognitif (cognitive framework) yang menuntun akal dari bias menuju kepastian hukum dan kebenaran perilaku. Tugas kita adalah menggunakannya untuk pengambilan keputusan pribadi maupun jamaah agar berguna bagi kebaikan umat (public well-being)." 

"Jika para pembaca kisah ini suka," pungkas Guru Sailan, "di edisi selanjutnya, Haji Sedun akan kembali dengan kekeliruan kognitifnya yang lain—Tunggu kisah Haji Sedun berikutnya!"