Oleh :
Oktarizal Drianus (Kaprodi Psikologi Islam FDKI/Tim Behavioral Science Layanan Psikologi Psychosophia Prodi Psikologi Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam)
Pertemuan Rahasia Sekte di Kebun Pisang
Siang itu, Haji Sedun menerobos masuk ke teras rumah Guru Sailan. Wajahnya pucat, napasnya terengah-engah seolah baru saja melihat hantu, dan peci putihnya agak miring. Ia langsung menyambar teh hangat yang disajikan Guru Sailan.
"Guru, celaka! Celaka besar!" seru Haji Sedun, suaranya parau. "Ada kelompok aneh di ujung kebun pisang desa sebelah! Mereka sudah menjual semua harta benda! Rumah, motor, bahkan sawah warisan sudah dilepas. Mereka membuang semua yang berbau teknologi dan hanya menunggu di sana. Ini sekte Kebun Pisang Guru!"
"Kenapa mereka melakukan semua itu, Haji?" tanya Guru Sailan tenang.
"Mereka percaya akan datang banjir bandang besar yang akan menyapu desa kita dalam tiga hari ke depan, Guru! Pemimpin sekte mendapat nubuat dari langit. Dan hanya anggota mereka yang suci yang akan dijemput oleh piring terbang yang akan mendarat tepat di kebun pisang itu! Mereka sudah berkumpul di bawah terpal plastik yang rapuh, berdo’a dengan mata terpejam, dan menunggu tibanya keselamatan!"
Tiga hari sudah berlalu. Haji Sedun kembali, kali ini dengan ekspresi kebingungan yang total. "Guru, tidak ada banjir. Tidak ada kiamat juga. Langit cerah sekali. Tidak ada piring terbang. Mereka hanya duduk di tanah, bingung dan kedinginan. Saya kira mereka akan malu, menyesali perbuatannya, dan bubar..."
"Lalu?" desak Guru Sailan.
"Justru ini yang gila, Guru! Pemimpin sekte mereka tiba-tiba bangun, berteriak bahwa dia baru saja menerima pesan dari 'atas'. Dia bilang: 'Tuhan membatalkan kiamat karena doa dan kesucian kita yang luar biasa! Kita telah menyelamatkan seluruh dunia!' Dan tahu apa? Mereka malah jadi lebih bersemangat, lebih yakin, dan mulai mencari orang lain untuk bergabung! Mengapa, Guru? Ramalan sudah jelas-jelas salah, kenapa keyakinan mereka malah makin kuat?"
Guru Sailan tersenyum lembut. "Haji Sedun, apa yang kamu saksikan di kebun pisang itu adalah disonansi kognitif (cognitive dissonance). Jadi, Haji, bias-bias inilah yang mengubah kegagalan total menjadi 'bukti' bagi mereka."
Disonansi Kognitif dan Kiamat yang Gagal
Parodi tentang Kebun Pisang yang baru saja kita saksikan, sungguh-sungguh, adalah jiplakan persis dari kasus klasik yang amat tenar di jagat psikologi sosial. Yang meneliti bukan sembarang orang, melainkan ilmuwan psikologi sosial kaliber berat bernama Leon Festinger. Beliau, pada tahun 1954 di Chicago, pernah menyusup—ya, menyusup—ke sebuah kelompok ganjil yang menamakan diri "The Seekers". Mereka ini dipimpin seorang perempuan bernama Marian Keech, yang mengaku menerima pesan telepati dari makhluk luar angkasa bernama "Sananda" dari planet Clarion.
Pesan dari Clarion itu singkat namun fatal: Bahwa banjir besar akan melanda Bumi pada tanggal 21 Desember dan datang kiamat. Hanya anggota The Seekers yang katanya suci yang akan dijemput oleh piring terbang, tepat tengah malam pada 20 Desember. Festinger dan timnya, yang menyamar, tak sabar menunggu bukan kiamatnya, melainkan menunggu momen ketika ramalan itu gagal total. Riset getir-lucu ini pun dibukukan menjadi When Prophecy Fails: A Social and Psychological Study of a Modern Group That Predicted the Destruction of the World, tahun 1956—ingat saja judul pendeknya: When Prophecy Fails. Buku ini, kalau Anda ingin tahu, adalah babon dari segala babon tentang studi bias kognitif.
Inti pahit dari disonansi kognitif itu sendiri sederhana, namun sanggup membuat pusing tujuh keliling: Ada dua fakta keras kepala yang saling sikut di kepala jemaah. Pertama, mereka rugi besar karena ramalan itu omong kosong. Kedua, mereka harus benar, sebab pengorbanan yang sudah terlanjur mereka tanggung terlalu mahal, itu yang disebut sunk cost (biaya yang tenggelam, biaya yang tidak dapat diambil kembali).
Menerima kerugian terlalu menyakitkan. Maka, otak para jemaah mengambil jalan pintas mental yang disebut Attributional Bias, yaitu kesalahan pemimpin (faktor internal) diganti dengan pembenaran agung yang dramatis (faktor eksternal: "Tuhan membatalkan!"). Tiba-tiba kegagalan yang memalukan berubah menjadi 'bukti' kesucian yang membanggakan.
Fenomena bebal ini tidak hanya terjadi pada sekte piring terbang. Mekanisme kognitif yang sama persislah yang bekerja menguatkan kelompok radikal dan ekstremis dengan false belief mereka. Ketika disonansi muncul akibat tindakan ekstrem yang tak sejalan dengan keyakinan inti, rasa sakit itu harus diatasi. Caranya?
Mereka melakukan 'misbehave' kognitif berlapis: pertama, mendekap bukti manja (Confirmation Bias): Mereka hanya mencari, dan merayakan, bukti receh yang mendukung narasi yang baru saja mereka ciptakan. Kedua, mewajibkan reuni akbar dan merekrut jamaah baru (In-Group Dynamics): Kegagalan justru tak membuat mereka bubar, melainkan makin akrab dan loyal. Ikatan internal menguat, memaksa mereka merekrut anggota baru untuk memvalidasi betapa besar pengorbanan yang sudah terlanjur mereka tanggung.
Risleting Celana yang Mengganggu Sinyal Keselamatan
Tentu saja, dalam Sekte the Seekers—atau katakanlah Sekte Kebun Pisang versi Chicago—urusan sunk cost alias 'biaya yang sudah tenggelam' itu bukan sekadar fiktif seperti dalam sekte yang diintip H. Sedun. Itu adalah fakta yang berbau gosong. Mereka sungguh-sungguh menghibahkan, membuang, bahkan meninggalkan semua yang berbau harta. Ada yang nekat drop out dari kuliah, ada yang resmi mengajukan surat resign ke kantor yang gajinya lumayan, bahkan berhenti jadi dosen.
Namun, yang paling getir sekaligus konyol, mereka punya aturan kaku: logam apa pun, sekecil apa pun, tidak boleh melekat di badan, sebab konon katanya akan mengganggu sinyal suci piring terbang yang ditunggu.
Gara-gara aturan aneh bin ajaib ini, salah seorang anggota tim peneliti-penyusup Festinger mendadak diserang demam dingin. Ia digeledah oleh para jemaah dengan mata penuh curiga. Dan sungguh sialnya, mereka menemukan logam terlarang itu! Bukan kalung emas warisan atau jam tangan mahal yang ia lupakan, melainkan risleting celananya!
Alhasil, si peneliti yang harus menjaga profesionalitas riset itu terpaksa kembali ke kerumunan dengan celana yang bagian depannya sudah dioperasi. Ia berjalan kaku, keringat dingin membasahi punggungnya. Untung saja, entah karena mukjizat piring terbang atau hanya nasib baik yang tak terduga, tidak ada yang berteriak curiga. Ia lolos. Piring terbang memang batal datang, tapi setidaknya celana tanpa risletingnya berhasil menyelamatkan integritasnya sebagai peneliti. Barangkali, jika H. Sedun yang menyusup dan ketahuan, sudah tamatlah riwayatnya!
Kaidah Al-Yakin dan Teh Guru Sailan yang Mendingin
Kembali ke Sekte Kebun Pisang, Guru Sailan memandang Haji Sedun dengan serius. "Disinilah behavioral insight mampu menggali bias ke permukaan sehingga dikenali. Adalah fakta bahwa akal sehat yang kita miliki sering dikalahkan oleh bias. Namun, kita memiliki panduan berpikir logis yang menawarkan penangkal agar tidak ikut-ikutan, kaidah fikih yang berfungsi sebagai kerangka kerja kognitif (cognitive framework) yang mengunci akal kita agar tetap rasional dan adil, sekaligus mengatasi bias."
"Untuk mengeliminasi bias agar tidak tertipu sekte tersebut, kita punya penawar melalui kaidah utama yang sederhana dan kuat: "al-yaqinu la yazulu bi asy-syakk* (اَلْيَقِيْنُ لَا يَزُوْلُ بِالشَّكِّ), "Keyakinan (asal) tidak dapat dihilangkan oleh keraguan." Kaidah ini memaksa akal kita untuk menolak pembenaran emosional (attributional bias). Keyakinan asal (yaqin) adalah dunia aman, berjalan normal. Ramalan kiamat itu hanyalah keraguan (syakk) yang tidak mempunyai bukti nyata. Setelah ramalan gagal, kaidah ini menuntut kita untuk kembali pada fakta nyata, bukan menciptakan keyakinan palsu baru hanya untuk melindungi kerugian dan ego. Inilah cara kita menggunakan kaidah fikih sebagai kerangka kerja kognitif mengatasi bias kognitif.
"Haji Sedun," ujarnya. "Masalahnya bukan lagi di sunk cost mereka. Kalau sekadar celana tanpa risleting, itu masih bisa ditutup-tutupi. Masalahnya kini adalah, bagaimana kita mengubah keyakinan yang sudah terlanjur nyaman mengkambinghitamkan Tuhan untuk kegagalan ramalan—agar mau kembali menapak di bumi yang becek ini?"
Bagi yang belum masuk Sekte Kebun Pisang ini efektif bukan? Nah, bagi yang sudah jadi anggota sekte, perlu proses panjang. Kali ini giliran Guru Sailan yang pusing kepala memikirkan bagaimana caranya, anda bisa bantu?
Sembari Guru Sailan pusing tujuh keliling, H. Sedun malah mengoceh, “Apa saya jadikan klub sepakbola saja itu sekte ya? Setidaknya mereka lari-lari, berkeringat, dan energinya tersalurkan daripada menunggu piring terbang."
Guru Sailan tersenyum tipis mendengar celotehan H. Sedun yang frustrasi. “Itu mungkin bisa memutus rantai bias kognitif mereka sementara waktu, seperti kata anak muda sekarang, 'healing'. Akan tetapi, kita tidak bisa sekadar mengandalkan hiburan. Kita harus menyusun langkah yang terstruktur di masa depan, meskipun saya belum tahu apa itu." Guru Sailan menyeruput tehnya yang sudah dingin sambil merenung, mengapa sehelai daun pisang lebih pasrah pada kehangatan matahari, ketimbang para jemaah Sekte Kebun Pisang yang menunggu piring terbang itu.
*) kaidah fikih yang digunakan hasil diskusi dengan K.H. Mursyidul Wildan