Oleh:
Rusydi Sulaiman (Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam IAIN SAS Babel & Dewan Pembina Pondok Pesantren Al-Islam Kemuja Bangka, Prov.Kep. Bangka Belitung)
Ketika begitu banyak generasi berkualitas di negeri ini dipastikan sebagiannya adalah alumni pesantren. Artinya lembaga khas Nusantara (an indigeneous institution) tersebut memiliki peran signifikan akan kehadiran mereka sehingga ambil peran penting di bidang-bidang tertentu termasuk pemerintahan pasca kejatuhan Rezim Orde Baru.
Disayangkan, kontribusi besar pondok pesantren dalam sejarah negeri ini tidak juga membuat pihak tertentu mengapresiasinya, melainkan sebaliknya mencemooh, memberi stigma negatif terhadap lembaga pendidikan tertua tersebut. Terkadang alumninya dihalang-halangi. Generalisasi terhadap pesantren dinilai tergesa-gesa bagaikan orang buta melihat gajah. Tinggal dan menetap bertahun-tahun di sebuah lembaga bernama pesantren pastinya belumlah cukup untuk memahami hakikat kelembagaannya. Kata orang bijak: "Jangan bicara pesantren bila belum pernah mondok—nyantri di pesantren".
Satu-dua kasus terkait pesantren sebelumnya dan terkhusus yang terakhir, yaitu runtuhnya gedung bertingkat di Pondok Pesantren Al-Khoziny di akhir September 2025 yang memakan korban puluhan santri bisa jadi menambah sikap sinis pihak tersebut terhadap pesantren seluruhnya. Bisa jadi dicari-cari kesalahannya. "Na'uudzubillah Billah min dzaalika".
Namun, tidak demikian dengan mereka yang bersimpati. Tanpa menyalahkan siapapun, Pemerintah Daerah di Jawa Timur juga cukup sigap mengatasi musibah yang menimpa pesantren tersebut. Presiden pun segera bersidang dan perintahkan beberapa menterinya untuk menindaklanjuti—memantau seluruh pondok pesantren di Indonesia. Menteri Agama pun menyertai. Dipastikan peristiwa tersebut ada hikmahnya sekaligus pembelajaran dan pijakan bagi pesantren lainnya untuk bermuhasabah, juga bagi pihak pemerintah agar tingkatkan kepeduliannya terhadap ribuan pondok pesantren di negeri ini.
Pondok pesantren, apakah sudah dilupakan (forgotten)? Dilupakan, sengaja atau tidak disengaja atau bahkan dibiarkan sekalipun, sesungguhnya tidak masalah bagi pesantren. Faktanya lembaga tertua tersebut tetap saja berjalan bahkan semakin menguat (establish) dan mengakar, berada di hati masyarakat. Ketulusan mengabdi pimpinan dan komunitas di dalamnya (guru, pegawai, santri dan keluarga) memberikan sentuhan tersendiri. Nuansanya berbeda jauh dibandingkan dengan lembaga formal umumnya bahkan sekolah elit paling mahal sekalipun, tidak akan mampu menyainginya.
Pesantren yang sesungguhnya tidak muncul seketika, akan tetapi ia terbentuk dari pribadi-pribadi yang shaleh; tulus, penuh pengorbanan dan pasrah kepada Allah Swt. dengan kekuatan falsafah dan idealisme, terdiri dari hakikat, visi, misi, nilai, tradisi, ruh atau jiwa dan prinsip kepesantren. "Bondo bau fikir, lek perlu sak nyawane pisan" (nyawa pun dikorbankan demi pesantren).
Berikutnya diperkuat dengan manajemen kelembagaan sehingga menjadi lembaga yang kuat. Secara fisik, sebuah pesantren bermula dari tempat tinggal sederhana dan tanah milik pribadi seseorang, disebut kyai, tuan guru, buya atau semacamnya yang kemudian diwakafkan. Setelah itu berdiri mushalla atau masjid sebagai sentral kegiatan santri, asrama santri, kelas tempat belajar dan seterusnya. Barulah disebut pondok pesantren dengan beberapa elemen yang dimiliki.
Pesantren dapat diklasifikasi menjadi dua kelompok besar, yaitu: salaf (tradisional) dan Khalaf (modern), dan perpaduan diantara keduanya. Proses itu tidak dimiliki oleh lembaga formal manapun.
Pastikan lembaga pendidikan tertua tersebut memiliki karakteristik tersendiri. Maka dari itu bila muncul sikap pasif beberapa pesantren terhadap pihak luar, sebenarnya bukan karena mereka tidak mau dibantu, melainkan telah tertanamnya kemandirian jiwa dan agar lebih leluasa dalam mengabdi. Tujuan utamanya adalah melahirkan generasi shaleh, berkualitas dan berperadaban. Pondok pesantren umumnya bersikap moderat; akan mengadopsi yang dianggap baik walaupun memang tetap pertahankan nilai-nilai tertentu yang sangat prinsip (al-Muhaafazhah 'alal-Qadiimish-Shaalih wal-Akhdzu bil-Jadiidil-Ashlah).
Pondok pesantren bagaikan ibu kandung yang jasanya mustahil dilupakan. Sentuhannya satu tingkat di bawah Tuhan, Allah Swt. Itulah pesantren yang sesungguhnya; berjuang tanpa tendensi. Apa yang dilihat, dirasakan dan dialami sepanjang hari di lingkungan pondok pesantren adalah pendidikan bagi komunitasnya. Mudah-mudahan puluhan santri korban runtuhnya gedung Al-Khoziny menjadi syahid (Syahiidud-Dunyaa wa Syahiidul-Aakhirah).
Tanpa berpretensi apapun dan kepada siapapun, marilah kita didik putra-putri di negeri tercinta ini menjadi generasi shaleh, berkualitas dan berperadaban. Salah satu solusinya adalah pondok pesantren as indigeneous institution; menjadi un-forgotten (tak terlupakan).