Psikologi Kotak Amal dalam Dua Tragedi

avatar HUMAS FDKI
HUMAS FDKI

518 x dilihat
Psikologi Kotak Amal dalam Dua Tragedi
Ilustrasi

Oleh :
Oktarizal Drianus 
(Kaprodi Psikologi Islam/Tim Behavioral Science Layanan Psikologi Psychosophia Prodi Psikologi Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam)

Kotak Amal Berwajah
Pagi itu, di teras masjid, di antara harum bunga kertas dan kesegaran air wudu, ada dua kotak amal yang bercerita tentang nasib manusia. Haji Sedun, Ketua DKM (Dewan Keraguan Mendalam), memandangi dua kotak itu dengan mata nanar.

Kotak pertama, bertajuk “Peduli Salim”, memuat foto buram seorang bocah yatim delapan tahun. Wajahnya polos, nasibnya kelam! ia butuh operasi tumor langka. Kisah yang sangat personal, sangat medsos-able.

Kotak kedua, bertajuk “Seribu Cahaya”, hanyalah kotak kardus biasa. Isinya bukan foto, melainkan deretan angka statistik: Program donasi 1.000 Al-Qur'an dan buku iqra’ untuk 12 pondok terpencil di pedalaman Pulau Jengkol. Target dana Rp 50 juta. Sebuah proposal yang dingin, mati rasa.

"Kau lihat, Guru Sailan?" tanya Haji Sedun, menghela napas yang berat. Ia menunjuk Kotak Salim yang penuh sesak hingga uangnya meluber. "Kotak Salim sudah mencapai 100% target dalam empat hari! Masyarakat berebut menyumbang, seolah surga mereka tergantung pada operasi anak itu! Bahkan istri saya ikut menyumbang anting-anting."

Guru Sailan, dalam keheningannya yang teduh, hanya mengamati. Sarungnya bergerak tipis oleh angin.

"Sementara itu," lanjut Haji Sedun, nadanya merosot tajam, "Kotak Seribu Cahaya, yang dampaknya bisa mencerdaskan seribu anak dan membawa terang agama ke 12 kampung... baru terisi 10% saja! Kita bicara seribu jiwa, Guru! Kenapa orang kita lebih peduli pada satu wajah daripada seribu jiwa yang hanya berupa angka?"

Dalam keputusasaan yang kocak, Haji Sedun mencoba "mengakali" sunatullah pasar, ia mencetak foto salah satu anak dari 1.000 siswa itu, menamainya "Agus", dan menempelkannya di Kotak Seribu Cahaya. Ia berharap sentuhan personal akan menaklukkan statistik.

Seminggu kemudian, hasilnya sungguh satir. Donasi Kotak Seribu Cahaya tetap lambat. Yang lebih konyol, beberapa jamaah yang melihat "Agus" bersama angka 1.000 malah menarik kembali uang dari Kotak Salim!

Mereka bergumam: "Aduh, ternyata masalahnya di pedalaman itu sebesar ini ya? Sulit sekali menolong semua orang."

"Lihat, Guru!" raung Haji Sedun. "Saya coba buat mereka peduli pada Agus, tapi begitu mereka tahu Agus hanyalah satu dari seribu penderita, kedermawanan mereka langsung lumpuh! Kenapa akal kita mematikan kasih sayang ketika angkanya terlalu besar?"

Guru Sailan tersenyum lembut, senyum yang sarat keprihatian. Kebetulan, ia teringat pada seorang warganya, Karman—nama lengkapnya Gat Karman, Ph.D. Sesuai namanya, kepakarannya dalam hitung-menghitung, ukur-mengukur risk dan reward tak diragukan lagi.

Gat Karman adalah seorang ahli statistik jebolan Eropa yang memilih pulang ke Kampung Pisang. Bukan karena miskin, melainkan karena muak pada 'data palsu' yang selalu dimanipulasi kepentingan di kota. Ia mencari 'data primer' yang jujur di sini, di mana human behavior masih murni, meskipun itu berarti ia hanya menghitung seberapa sering ayam tetangga berkokok dalam sehari atau mengukur tingkat kebahagiaan kambing Haji Sedun.

"Mungkin ia bisa membantu kita menghitung hati manusia," gumam Guru Sailan.

Benar saja, tak lama kemudian Gat Karman, yang kebetulan sedang mengukur kemiringan menara air, muncul dari balik pohon kamboja. Ia membawa laptop tipisnya, kacamata bingkai tebal, dan aura keilmuan statistik yang dingin dan tak terbantahkan.

Tragedi IVE dan Tragedi Statistik
Gat Karman mengambil alih pembicaraan, matanya memancarkan cahaya dingin dari balik lensa tebalnya. Kini ia tampil seolah-olah bukan lagi tetangga yang menghitung kambing, Ia menganggap dirinya bukan lagi seorang ahli matematika biasa, melainkan seseorang yang mengkhususkan diri pada ilmu yang mencoba menghitung value dari kegagalan hati manusia.

"Haji, Guru," katanya, nadanya formal namun menusuk, "Fenomena ini muncul dari titik di mana perilaku ekonomi bertemu dengan statistika, psikologi kognitif, dan intersectionality lainnya. Saya sendiri, selain statistik, meneliti bidang psikologi, Ekonomi, dan banyak lagi saya belajar multidisiplin." Tubuhnya condong ke depan, seolah Kampung Pisang adalah ruang kuliah elit di Eropa.

Kali ini, Haji Sedun hampir tersedak ludahnya sendiri. Ia mengipas-ngipas wajahnya dengan peci, tatapannya menyiratkan kekesalan abadi seorang pedagang yang dihina oleh jargon, abstraksi, dan bahasa alien yang dipaksakan masuk ke telinganya, tidak bisa dicerna. Guru Sailan, meski hatinya membenarkan hitungan Karman, harus menahan senyum satir melihat lagak sang doktor yang selalu merasa selangkah di depan peradaban itu.

Gat Karman berdiri, menarik napas dalam. "Ini telah dihitung, tapi sudah saya validasi. Fokus saya memang pada titik buta multidisipliner semacam ini, di mana emosi menolak untuk dihitung," ia melanjutkan, suaranya dingin dan presisi. Kali ini, Haji Sedun merasa mual sungguhan.

"Fenomena ini—yang kita lihat di kotak amal itu—telah dijelaskan secara rinci dalam paper berjudul Sympathy and Callousness: The Impact of Identifiability and Numeric Scope on Donations oleh Deborah Small, George Loewenstein, dan Paul Slovic, yang terbit pada tahun 2007 di jurnal Organizational Behavior and Human Decision Processes."

Ia kemudian mulai menggerakkan tangan kanannya ke depan, seperti memotong sesuatu dengan gergaji, menciptakan celah tajam di udara.

"Fenomena ini disebut Identifiable Victim Effect (IVE)," ia menjelaskan sambil memotong udara. "Ini adalah ironi yang paling mendasar dalam psikologi amal kita. Lihat tangan saya, Haji. Di sebelah kiri (ia menunjuk tangan kirinya), ada emosi murni yang terpicu oleh wajah Agus. Ini adalah Sistem 1. Ia melihat penderitaan, ia ingin menjadi pahlawan bagi satu nyawa konkret."

Ia menggerakkan tangan kirinya menjauh, kemudian menunjuk tangan kanannya yang kaku.

"Tapi di sebelah kanan, Haji, ada angka 1.000. Ini adalah Sistem 2. Ini adalah statistik skala, dan ia bekerja seperti gergaji dingin. Begitu Anda memaksa emosi Agus bertemu dengan skala 1.000, gergaji ini akan memotongnya."

"Angka 1.000 itu memicu Psychic Numbing—mati rasa psikologis. Itu sebabnya jamaah menarik uang dari Kotak Salim. Mereka tidak hanya melihat bahwa Agus adalah satu dari seribu; mereka melihat bahwa mereka—para donatur—tidak lebih dari nol koma nol sekian persen dari solusi. Mereka merasa sumbangan mereka 'tidak efektif' di hadapan skala besar. Jadi, hati mereka menarik diri untuk melindungi diri dari keputusasaan." tutup Gat Karman, tangannya tetap membeku di udara, seolah gergaji itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya membelah kedermawanan manusia menjadi dua bagian yang tidak setara.

Guru Sailan, yang sejak tadi hanya mengamati gaya Gat Karman yang terlampau formal dan dingin, menghela napas tanpa suara. Dalam hatinya, ia bergumam: Gaya anak ini memang selalu berlebihan, selalu ingin membuktikan bahwa ilmu pengetahuan modern adalah gergaji yang lebih tajam dari hati nurani. Tapi, sialnya, hitungannya benar-benar akurat. Kebenaran, seringkali, datang dengan kacamata tebal dan bahasa yang dingin. 

"Dan yang paling menggelikan, Haji!” potong Gat Karman lagi, seolah membaca pikiran Guru Sailan,” adalah hasil risetnya! Lihatlah! ketika kau menambahkan statistik pada Agus, itu justru merusak efek emosionalnya. Angka besar itu mengubah Agus dari individu yang bisa diselamatkan menjadi bagian tak terpisahkan dari masalah yang mustahil dipecahkan. Sumbangan pun merosot." 

Guru Sailan menyambut, "Haji Sedun, jamaahmu tidak menarik uang dari Kotak Salim karena mereka jahat. Mereka menariknya karena mereka baru saja mengalami kehilangan kebahagiaan."

Mereka menarik uang dari Kotak Salim bukan untuk menghukum Salim, melainkan untuk melindungi diri mereka sendiri dari rasa cemas dan keputusasaan yang dipicu oleh numeric scope 1.000. Daripada merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan semuanya, lebih baik mereka mengambil kembali uang itu dan menggunakannya untuk hal yang realistis (atau bahkan disimpan saja), karena kontribusi mereka terasa sia-sia di hadapan skala tragedi yang terlalu besar. 

Guru Sailan manggut-manggut paham, lantas menyimpulkan, "Wajah Agus, yang seharusnya menjadi penyelamat, justru menjadi jendela yang membuka jurang keputusasaan.” 

“Akal sehat mengatakan 1.000 Al-Qur'an jauh lebih penting untuk masa depan umat. Tapi hati kita—yang hanya mau disewa oleh satu kisah menyedihkan—lumpuh total di hadapan besarnya skala penderitaan," pungkas Guru Sailan.

Kaidah Tasharruf dan Statistik Skala atau Besaran
"Jika saya hitung, sumbangan rata-rata per jiwa (maṣlaḥah) untuk kasus Salim jauh lebih tinggi daripada sumbangan untuk Seribu Cahaya. Emosi menuntut fokus individu, logika menuntut fokus pada dampak terluas. Ini hasil dari analisis statistik skala atau besaran, dalam paper itu disebut numeric scope."

Guru Sailan menyambutnya dengan anggukan yang dalam. "Tepat sekali, Karman. Hitunganmu akurat, seolah Fikih itu bisa dikalkulasi per rupiah. Tetapi, tugas kita sebagai panitia amal bukan mengikuti kemana hati kita terkontaminasi emosi, melainkan mengikuti kemana kemaslahatan terbesar berada."

"Maka, kaidah yang kita gunakan untuk mengoreksi bias IVE ini adalah:

 تَصَرُّفُ الْإِمَامِ عَلَى الرَّعِيَّةِ مَنُوطٌ بِالْمَصْلَحَةِ

"Kebijakan seorang pemimpin terhadap rakyat harus didasarkan pada kemaslahatan."*

Kaidah ini yang menuntut Haji Sedun untuk mengabaikan getaran emosi sesaat dan memilih tindakan yang memberikan dampak kolektif (Maṣlaḥah Ammah) terbesar. Kaidah fikih memaksa kita mengedepankan logika statistik yang dingin, demi kebaikan umat yang lebih luas, bahkan jika itu terasa kurang heroik daripada menyelamatkan satu anak. 

Guru Sailan, Gat Karman, dan Haji Sedun terdiam. Angin bertiup, menerbangkan selembar kertas yang berisi foto Salim, lalu membawanya menuju kotak yang berisi statistik kering. Itu adalah metafora visual yang pahit. Haji Sedun menatap kedua kotak itu bergantian, antara keinginan hati yang merengek dan tuntutan logika agama yang menusuk. 

"Rupanya," kata Haji Sedun pelan, suaranya bergetar tipis dan penuh kesadaran, "Tuhan pun menuntut kita untuk mencintai orang banyak, bukan hanya satu orang yang kebetulan lewat di depan mata kita. Dan itu, Guru, ternyata jauh lebih sulit." 

Di teras masjid, di antara harum bunga kertas dan kesegaran air wudu, keheningan menyelimuti Haji Sedun, Gat Karman, dan Guru Sailan. Mereka bertiga hanya duduk, diselimuti bayangan senja, membiarkan dilema antara hati dan angka menggantung di udara. Malam pun turun, dan di Kampung Pisang, sebuah kebenaran baru telah terhitung: Manusia adalah makhluk yang rapuh, dan ia akan menarik diri dari kebaikan, jika kebaikan itu menuntutnya untuk berhenti bahagia. 

* kaidah fikih ini merupakan hasil diskusi dengan K.H. Musyidul Wildan