Saat Resep Telinga Tersasar ke Pantat

avatar HUMAS FDKI
HUMAS FDKI

622 x dilihat
Saat Resep Telinga Tersasar ke Pantat
Gambar hanya ilustrasi

Oleh : Oktarizal Drianus, Kaprodi Psikologi Islam/ Tim Behavioral Science Layanan Psikologi Psychosophia Prodi Psikologi Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam

Medication Error: Telinga ke Pantat

Untuk pertama kalinya, Kuartet Kampung Pisang—Guru Sailan, Haji Sedun, Hj. Acit, dan Dr. Gat Karman—menginjakkan kaki di luar negeri.

Alasannya absurd sekaligus logis! Hj. Acit memenangkan undian dari pendaftran umrah dari sebuah bank syariah, yang ternyata bisa diuangkan dan diubah menjadi paket belanja ke Singapura. Gat Karman—yang sok sibuk mengukur hedonic treadmill (batas kebahagiaan belanja) orang Asia Tenggara—akhirnya ikut. Haji Sedun? Tentu saja ia menjadi artefak hidup dari kegelisahan tradisi di tengah kerapian modern. 
Di tengah hiruk pikuk Orchard Road yang terlampau teratur, Haji Sedun tiba-tiba meringis kesakitan. 

"Guru, Gat, Acit! Telinga saya! Rasanya seperti ada seratus semut api sedang rapat di dalam sana sambil lemparan kursi!" rintihnya, memegangi telinga kanannya. 

Mencari kesana kemari, akhirnya mereka pun terdampar di sebuah klinik privat yang sangat rapi, tetapi sangat ramai—sebuah gambaran sempurna dari peradaban yang sibuk, lelah, rentan salah tafsir. 

Di ruang periksa, dokter yang tampak lelah—mungkin overload administrasi—memeriksa H. Sedun dengan cepat. Sambil mengetik resep di komputer dengan terburu-buru, dokter itu bergumam, "Infeksi. Saya beri obat tetes. Nanti minta perawat teteskan dulu, kemudian lanjutkan sendirik tiga kali sehari." 

Haji Sedun, yang sudah setengah tuli karena sakit, mengangguk patuh dan membawa secarik kertas resep itu ke ruang tindakan. 

Di ruang tindakan, Suster Ling Ling, seorang perawat muda yang sigap menyambutnya. Ia membaca resep itu: "place 2gtt in R.ear". Kira-kira artinya: taruh 2 tetes di R.ear). Suster Ling Ling menatap resep itu. Ia lalu menatap Haji Sedun yang sedang memegangi telinganya. Lalu ia menatap resep itu lagi. 

Wajahnya memerah sejenak. Ini adalah momen di mana kepatuhan buta bertarung melawan logika naluriah di wajah seorang profesional yang lelah. 

"Baik, Pak Haji," kata Suster Ling Ling dengan nada profesional kaku. "Silakan berbaring miring ke kiri, dan... mohon maaf... celananya diturunkan sedikit." 

Haji Sedun terlonjak, nyaris terjatuh dari ranjang. "Astaghfirullah, Suster! Yang sakit telinga saya! Kenapa jadi urusan celana?! Saya tidak paham 'R-E-A-R' itu urusan apa!" rintihnya, terhina namun bingung. 

Suster Ling Ling, kini ikut panik, menunjukkan resep cetak itu. "Maaf, Pak Haji. Di sini jelas tertulis 'R-E-A-R'. Artinya... bagian belakang, Pak. Pantat." Tepat saat Haji Sedun hendak mengeluarkan sumpah serapah dalam bahasa Melayu-nya yang paling keras—sebuah ungkapan yang terasa lebih jujur daripada jargon saintis—sebuah suara dingin memotong udara. 

Itu Gat Karman. Ia sudah berdiri di ambang pintu, kacamata tebalnya memancarkan kilau tajam seolah sedang memindai risk exposure Haji Sedun. Ia langsung menyambar kertas resep itu dari tangan Suster Ling Ling. 

"Stooop!" potong Gat Karman, nadanya dingin tapi memerintah. "Ini bukan 'REAR', Suster. Ini adalah simbol tipikal dari kegagalan desain sistem!"
Ia memutar resep itu, lalu menunjuknya dengan ujung pensil. "Dengarkan baik-baik. Ini 'R. EAR'! Bukan REAR! Titik itu adalah kode singkatan dari RIGHT EAR! Telinga Kanan! Sangat jelas!" Ia menoleh ke Haji Sedun dengan tatapan menghakimi. "Haji, Anda dan Suster ini baru saja menjadi korban dari anomali komunikasi yang sudah divalidasi sebagai “medication error” sejak 1981! Dan catat baik-baik: Medication error semacam ini adalah fenomena global, Haji. Ia tidak memilih klinik di Singapura atau Puskesmas di Kampung Pisang. Ia ada di mana-mana!" 

Hj. Acit, yang sejak tadi hanya diam menenteng tas belanja, maju dengan tangan di pinggang, muak dengan lagak Gat Karman. "Sudah, Karman! Jangan membuat Suster ini merasa sedang dikuliahi Filsafat Sains jam 9 malam dengan dosen yang kelebihan kafein! Cukup. Dia sudah Lelah!” 

Guru Sailan menengahi, menepuk bahu Haji Sedun. "Betul kata Acit, Haji. Sekarang, Suster Ling Ling akan kembali ke dokter itu. Biarkan dia—sebagai profesional medis—yang mengklarifikasi singkatan yang ambigu itu. Tugas kita bukan menyalahkan, tapi memaksa kejelasan." 

Suster Ling Ling, yang kini kembali sadar akan profesionalismenya setelah interupsi keilmuan yang memusingkan, mengangguk cepat. Ia bergegas kembali ke ruang dokter, membawa kertas resep ambigu itu untuk konfirmasi. Haji Sedun, sedikit lega dan masih bingung, hanya bisa pasrah.

Authority Bias: Kepatuhan Buta akan Otoritas yang Kuat

Di teras klinik, Haji Sedun masih menggerutu. "Perawat zaman sekarang, telinga dengan pantat saja tidak bisa beda!"

"Jangan begitu, Haji," kata Guru Sailan. "Kau baru saja menjadi korban dari apa yang disebut medication error. Dan ini bukan salah Suster Ling Ling. Ini adalah kegagalan desain sistem. Medication error pada kasus ini terjadi di fase transcribing" 

"Haji, Guru," sela Gat Karman, nadanya formal, dingin, dan menusuk. "Fenomena yang hampir menimpa pantat Anda ini—yang Anda sebut 'kebingungan'—telah dipetakan dan diregresi dalam disiplin ilmu kami. Saya ini bukan sekadar ahli level biasa, Haji. Saya adalah Spesialis Analisis Arsitektur Keputusan Kognitif Terapan—fokus pada titik buta multidisipliner." 

Haji Sedun merasa tenggorokannya tercekat oleh jargon. Ia menatap Guru Sailan seolah memohon, 'Guru, tolong hentikan dia sebelum dia menyajikan kurva statistik di hadapan saya!' 

Gat Karman melanjutkan, tanpa peduli pada affect yang ditimbulkannya. "Saya mempelajari bagaimana otak manusia yang kelelahan membuat keputusan yang secara statistik tidak rasional, tapi secara neuro-behavioral bisa diprediksi." 

"Fenomena yang kita lihat ini adalah anekdot klasik, dicatat pertama kali dalam tulisan Cohen dan Davis pada tahun 1981, berjudul Medication errors: Causes and prevention. Philadelphia: G. F. Stickley Co. Kasus ini kemudian menjadi bahan anekdot di babon Psikologi Sosial, oleh David G. Myers dalam Social Psychology dan Robert Cialdini dalam Influence: The Psychology of Persuasion. Saya pribadi bahkan telah mereplikasi studi ini di tiga benua untuk memvalidasi cross-cultural stability bias ini." 

"Ini masalah Authority Bias. Suster Ling Ling, saat lelah, mengutamakan kepatuhan buta pada dokter (otoritas legal) daripada sense logika (System 2). Sistem 1 di otak telah membuat kepatuhan buta menjadi pilihan perilaku yang lebih mudah daripada rasionalitas kritis." 

"Mengapa ini terjadi?" Gat Karman melipat jarinya. "Karena faktor manusia yang tidak dihitung oleh sistem! Dokter lelah (overload)—volume pasien tinggi. Suster juga overload. Dalam tekanan kerja tinggi, ia memilih membaca visual terdekat (heuristic)—'R. ear' secara visual mudah dibaca 'REAR'. Ini adalah korban arsitektur Keputusan yang cacat." 

Haji Sedun menghela napas, kekesalan campur mualnya memuncak. Jargon Gat Karman terasa seperti penjajah yang masuk melalui telinga, merampas haknya untuk merasa kesal secara sederhana.

Behavioral Science dalam Desain Resep Elektronik

Gat Karman, yang kini sudah duduk santai dengan laptopnya, mengambil alih panggung narasi. Ia menatap Haji Sedun dan Guru Sailan dengan tatapan menghakimi—seolah mereka adalah masalah sistem yang harus direkayasa. 

"Jadi," ujar Gat Karman, nadanya seolah merangkum seluruh peradaban, "solusinya bukan 'memarahi' atau 'mengedukasi' Suster Ling Ling yang lelah. Itu solusi old school, solusi berbasis menyalahkan manusia. Solusi ilmiahnya ada di desain lingkungan keputusan." 

"Di sinilah peran Behavioral Science dalam e-prescribing modern," Gat Karman melanjutkan, tangannya kembali bergerak memotong-motong udara—seperti biasa. "Mereka tidak lagi fokus pada mengedukasi dokter, tetapi pada mendesain perangkat lunak agar tenaga kesehatan menjadi agen yang perilakunya minim error." 

"Pendekatan ini bukan lagi hipotesis, Guru. Ini adalah konsensus saintifik terbaru yang telah dipublikasikan secara tegas. Saya merujuk pada paper yang sangat mutakhir: Tackling medication errors: how a systems approach improves patient safety oleh Guntschnig, Barbosa, Jenzer, et al., yang terbit di European Journal of Hospital Pharmacy pada tahun 2025 ini. Mereka menegaskan, kegagalan manusia bisa lebih diatasi secara efektif dengan Pendekatan Sistem yang diintervensi oleh perilaku." 

"Sistem harus menggunakan Forcing Function—sebuah desain yang mewajibkan kebenaran. Ini adalah hard-nudge yang harus diterapkan pada arsitektur sistem. Sistem harus: "1) Memblokir Ambigu, misalnya memblokir singkatan yang ambigu seperti 'R. ear'; 2) Nudge Kritis, Sistem harus menampilkan Peringatan Kritis (Pop-up Nudge) jika ada instruksi yang sangat tidak biasa, tidak normal, atau kontradiktif”. Ya, kayak netesin obat telinga di pantat itu! 

"Intinya," Gat Karman menyimpulkan, "Kami, para ilmuwan (ia merasa sudah menjadi ilmuwan top), tahu bahwa sekadar 'menyuruh' itu tidak cukup. Kami mendesain intervensi agar orang mudah mengambil keputusan yang benar. Inilah yang harus diinternalisasi oleh para programmer."

Kaidah Al Daf’u: Mencegah Mudarat di Hulu

Guru Sailan kemudian menimpali, menyambut hitungan dingin Gat Karman dengan kehangatan kaidah agama. 

"Karman benar. Hitungan utilitasnya akurat, seolah ia bisa menghitung pahala dari sebuah kode program. Tetapi, kaidah Fikih memberi kita kerangka etis yang mendesak desainer sistem untuk menggunakan behavioral insight itu tadi." 

"Kaidahnya jelas, Haji, dan ini adalah kaidah utama dalam urusan menjaga nyawa: Al Daf’u Aqwa min al-Raf’i—Mencegah kerusakan lebih diutamakan daripada memperbaiki kerusakan."

* اَلدَّفْعُ أَقْوَى مِنَ الرَّفْعِ 

"Mendesain sistem e-resep yang anti-ambigu di awal untuk mencegah salah tafsir, jauh lebih utama daripada kita sibuk memperbaiki pantat Pak Haji yang kadung salah tetes obat telinga. Menjaga keselamatan pasien (wajib) tidak akan sempurna jika resepnya ambigu." 

Gat Karman mengangguk puas, menggerakkan tangannya seolah sedang memprogram ulang alam semesta. "Secara terminologi Guru Sailan, itu adalah al-Daf’u Aqwa. Secara disiplin kami, itu adalah Intervensi Promotif Terbaik—sebuah Upstream Design yang memotong future cost! Biaya pencegahan di hulu selalu secara statistik lebih rendah daripada biaya pemulihan di hilir, Haji!" 

Haji Sedun mengelus telinga kanannya. "Rupanya," gumam Haji Sedun, "untuk menyelamatkan telinga saya, yang harus diperbaiki adalah cara sistem bekerja di komputer?" 

"Tepat," tutup Guru Sailan. "Dan untuk menyelamatkan umat, kita tidak hanya berhenti di lisan, tapi juga intervensi sistem yang cerdas dan berdasar sains.lebih lagi, Mencegah mudarat di hulu, bukan hanya karena lebih murah secara statistik, tapi karena harga dari sebuah kelegaan pasien tidak selalu tepat direduksi melalui kurva regresi." 

Di saat kemajuan terlalu bising… Di luar… lalu lintas Orchard Road mengalir bagai sungai yang terlampau mahal. Guru Sailan, Haji Sedun, Hj. Acit, dan Gat Karman berjalan pelan, membawa obat tetes yang kini pasti akan jatuh di tempat yang benar. Haji Sedun tiba-tiba berhenti, memandang ke atas, ke gedung-gedung kaca yang menjulang angkuh, mencerminkan langit Singapura yang biru, namun terasa kosong. 

"Guru," katanya dengan suara yang sangat pelan, nada yang sunyi dan mengiris. "Saya jadi berpikir. Apa gunanya kerapian, ketepatan waktu, dan kemajuan yang luar biasa ini, jika pada akhirnya, keputusan hidup mati kita masih bisa ditentukan oleh sepotong titik yang dilupakan di resep yang terburu-buru?" 

Guru Sailan tersenyum getir, teringat pada semua kemanusiaan yang tergerus oleh efisiensi. "Titik itu, Haji, adalah jembatan tipis antara rasionalitas dan absurditas. Kadang, kemajuan itu terlalu bising, sehingga kita lupa bahwa suara yang paling lemah justru yang paling penting." 

Haji Sedun tertawa liris, tawa yang terdengar seperti gesekan daun kering di atas aspal bersih. Mereka berempat melanjutkan perjalanan, membawa oleh-oleh paling berharga dari Singapura: memahami bahwa manusia—sekalipun dikelilingi teknologi canggih—tetaplah makhluk yang rentan salah. Lalu, sains dan agama dibutuhkan bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk merancang agar surga menjadi lebih mudah diakses bagi siapapun. Malam semakin jatuh, mereka pun menghilang ditelan keramaian yang sunyi kota megah. 

* kaidah fikih ini merupakan hasil diskusi dengan K.H. Mursyidul Wildan