Shuhbatul-Ustaadzi Harmonisasi Hubungan Guru-Murid (Refleksi Hari Guru)

avatar HUMAS FDKI
HUMAS FDKI

389 x dilihat
Shuhbatul-Ustaadzi Harmonisasi Hubungan Guru-Murid (Refleksi Hari Guru)
Prof. Dr. Rusydi Sulaiman, M.Ag. (Guru Besar dalam Kepakaran Bidang Pengkajian Islam (Islamic Studies) IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung)

Oleh: Rusydi Sulaiman, Guru Besar dalam Kepakaran Bidang Pengkajian Islam (Islamic Studies) IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung.

Mencari ilmu itu wajib bagi setiap orang dan begitu banyak nasehat dan anjuran menuntut ilmu. Allah pun menegaskan bahwa orang yang berilmu berbeda dengan orang tidak berilmu (QS.Az-Zumar (39):9), dan Allah mengangkat derajat orang-orang beriman dan juga berilmu (QS.Al-Mujaadilah(58):11). Satu sosok yang sangat berjasa dalam konteks mencari ilmu adalah guru.

Satu syarat keterpenuhan mencari ilmu bagi seorang murid dari beberapa syarat adalah kedekatan hubungan dengan guru, disebut,"Shuhbatul-Ustaadzi" .Begitu terasa hampa bila hal tersebut tidak terpenuhi. Mungkin keberkahan menjadi berkurang bahkan sebagian orang berpendapat bahwa wujud guru adalah kemestian dalam belajar atau menuntut ilmu agar proses belajar lebih terarah ( terkoordinasi dengan baik). Ketiadaan seorang guru karena berpulang ( wafat) tetap diingat oleh murid-muridnya. Setidaknya terkirim Surat Al-Faatihah di sela-sela do'a mereka. Guru dirasakan ketulusannya seakan-akan ia selalu ada, terpatri dalam jiwa.

Sebelum belajar, seorang murid mesti mengenal baik gurunya dan materi apa yang akan diajarkan kepadanya,  lalu ia mengabdikan dirinya kepada seseorang yang benar-benar guru--sosok yang diguguh dan juga ditiru. Seorang murid lazimnya memposisikan dirinya sebagai murid yang haus ilmu pengetahuan.Sebaliknya ia tidak boleh merasa lebih pandai dari gurunya. Setelah itu, seorang guru menganggap muridnya adalah seorang pencari ilmu yang benar-benar ingin belajar. Bila demikian keadaannya, maka akan terjalin hubungan baik diantara keduanya. Dalam perspektif murid, seorang guru adalah segalanya, maka siap mengabdi kepadanya. Dari Al-Amiin al-Maalikiy, disebutkan: "man 'allamaniy harfan, shirtu lahuu 'abdan" (Barang siapa yang telah mengajarkan ku ilmu, maka aku siap menjadi hambanya). Namun dalam perspektif guru, ia tidak boleh selalu  ingin dihormati apalagi gila hormat sehingga bersikap semena-mena kepada murid-muridnya.

Hal tersebut menggambarkan begitu pentingnya keberadaan seoang guru bagi muridnya, bahwa murid akan lakukan apapun yang dititahkan guru kepadanya karena ia sudah diberi ilmu. Menurutnya, tanpa seorang guru, maka ia bukan siapa-siapa dan tak kunjung bermakna. Fenomena tampilan sikap terkesan  terlalu menghormati beberapa murid atau santri kepada guru atau kyai mereka di lembaga pendidikan tertentu tidak juga disalahkan, karena beberapa hal: pertama, murid yang mengalami proses tersebut dalam durasi waktu cukup lama, bertahun-tahun, bukan orang lain; kedua, kedalaman  ketulusan guru dalam mengajar ( mengabdi) tidak bisa dinilai dengan angka; kecuali bersifat sangat intuitif  atau Irfani; ketiga, ilmu yang diajarkan adalah materi  yang sangat dibutuhkan, belum pernah  ada sebelumnya, dan ahlinya seorang guru.

"Shuhbatul-Ustaadzi" yang diartkan kedekatan hubungan dengan guru sesungguhnya adalah hubungan bathin yang terjalin antara murid dan guru. Masing-masing sangat memahami posisinya sehingga berpengaruh terhadap langkah yang akan dilakukan. Terlebih guru, ia adalah sosok yang sangat memahami kepribadian seorang murid, dua murid, tiga murid   dan seterunya.

Dalam pengertian sederhana, sebutan guru tidak hanya dibatasi pada seseorang yang mengajar di lembaga formal seperti sekolah, madrasah dan atau majelis tertentu, tapi berlaku bagi siapapun yang telah mengamalkan ilmunya kepada orang lain.  Lingkungan di sekitar kita pun menjadi guru yang telah menyentuhkan banyak hal.

Bila konsep yang ditawarkan adalah "Shuhbatul-Ustaadzi" dalam rangka harmonisasi hubungan guru-murid, maka guru dimaksud adalah bukan orang yang sekedar mentransfer ilmunya kepada peserta didik sebatas terpenuhinya  hak dan kewajiban, melainkan ia seorang pendidik yang mengabdikan dirinya dengan penuh ketulusan tanpa tendensi sedikitpun.Dengan sendirinya ia akan diapresiasi dan dianggap sebagai guru dalam pengertian yang sesungguhnya, yaitu pribasi yang sangat menyentuhkan. Murid-muridnya pun merasa senang akan kehadiran guru tersebut.

Guru karena kualifikasi tertentu meningkat menjadi Tuan Guru, setara kyai--Jawa dan Madura; Ajengan--Sunda; Buya--sebagian Sumatera,  identik dengan kelekatan nilai kearifan lokal selain pengakuan otoritas keagamaan (Islam). Sebutan setara tersebut tetap "guru" di kalangan masyarakat di Bangka, berbeda dengan istilah guru di lembaga formal. Namun guru apapun bentuknya adalah pribadi yang mesti diteladani karena jasa-jasanya, lebih-lebih kepribadiannya yg kuat dan berintegritas tinggi. Guru melampaui logika dan perasaan murid-muridnya.

Sebagai murid yang sudah cukup lama berguru--menimba ilmu, marilah kita menghormati para guru dan mengenang mereka selamanya. Wassalam.