Dakwah lebih dari Sekedar Ceramah

avatar HUMAS FDKI
HUMAS FDKI

101 x dilihat
Dakwah lebih dari Sekedar Ceramah
Prof. Dr. Rusydi Sulaiman, M.Ag. (Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam)

Oleh : Prof. Dr. Rusydi Sulaiman, M.Ag. (Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam IAIN SAS Bangka Belitung)

 

Ketika diperdengarkan kata,"dakwah", pihak tertentu mencibir dan mungkin memberi stigma negatif, lalu seraya berkata: ceramah, tidak lebih. Boleh-boleh saja , ini problem, namun tidak sepenuhnya benar. Memang, label tersebut pastinya disebabkan oleh ketidaktahuan mereka tentang dakwah yang dalam sejarah perkembangannya menguat--sistemik, bahkan menjadi sebuah fakultas di beberapa PTKIN (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri) dan juga PTAIS (Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta).

Sekalipun dipersempit menjadi sebatas ceramah, tapi ceramah dimaksud bukan sekedar assalamualaikum dan atau hallo-hallo, melainkan ia  mesti bermuatan ilmu dan disampaikan dalam majelis ilmu bertujuan mencerdaskan umat ( jama'ah). Dan si penceramah atau narasumber juga harus harus membekali dirinya dg materi atau ilmu pengetahuan dengan metode dan hal-hal lain yang melekat. Bila dilakukan dengan segala ketulusan, insya Allah materi yang disampaikan menyentuh orang yang mendengarnya. Ceramah sebagai bagian dari  dakwah adalah kegiatan yang sangat mulia--bertujuan silaturrahim.

Dakwah secara harfiyah mengandung arti memanggil, menyeru dan atau mengajak. Secara istilah adalah mengajak kepada kebaikan atau mengajak orang  lain (objek dakwah) agar menjadi baik (beramal shaleh) untuk tujuan kebahagiaan di dunia dan juga di akhirat. Dakwah diharapkan dapat diterima dan  menimbulkan feed-back ( timbal balik). Setelah melalui seleksi, para objek dakwah juga bisa meningkat menjadi subjek dakwah (da'i) bila sudah memenuhi syarat dengan bekal ilmu pengetahuan keislaman yang dimiliki, disebut inti jama'ah.

Aktifitas dakwah dapat dilakukan secara personal dan kolektif--melalui organisasi dengan dukungan kuat  inti jama'ah, bermula dari tahapan pengenalan (ta'aaruf), penguatan atau sistematisasi (tanzhiim) dan berikutnya ideologisasi (tanfiizh). Hal ini kemudian disebut dakwah dalam pengertian metode . Adapun dakwah dalam makna materi adalah keseluruhan  nilai ajaran Agama Islam yang bersumber dari Al-Qur'an, Hadits, Ijma', Qiyas (analogi) dan sumber-sumber akurat ( mu'tabarah) lainnya.

Berikutnya secara teoritik, dakwah menjadi ilmu dakwah  mencakup unsur-unsur tertentu dan hal-hal yang melengkapinya. Ilmu dakwah tidak hanya bersifat normatif, melainkan juga historis. Pendekatan ilmu pengetahuan (scientific approach) sangat diperlukan untuk mendekati berbagai bidang ilmu pengetahuan. Dakwah dari tekstual ke kontekstual; dari deskriptif ke argumentatif rasional bahkan intuitif (metode Irfani).

Dakwah, baik dalam bentuk materi dan metode disusun secara terstruktur dalam bentuk kurikulum Fakultas Dakwah-FDKI (Fakultas Dakwah dan Komunikasi Sosial), FDK (Fakultas Dakwah dan Komunikasi ), FDIK (Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi), FUAD Fakultas Ushuluddin dan Dakwah) dan semacamnya di PTKIN dan juga PTAIS.

Di FDKI IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung, begitu banyak sebaran Matakuliah dalam satu struktur kurikulum tertentu dalam beberapa  program studi ( Jurnalistik Islam, Komunikasi dan Penyiaran Islam, Psikologi Islam, dan Bimbingan Konseling Islam). Fakultas tersebut dalam proses usulan program studi baru, yaitu Manajemen Dakwah.

FDKI  terus berbenah, mengembangkan diri dengan segala keterbatasan dan kekuatannya untuk tujuan penguatan kelembagaan dan lahirkan generasi berperadaban.

Akhirnya dakwah yang awalnya dipahami sangat sederhana kemudian menjadi lebih konseptual. Dakwah dalam pengertian metode mesti berdasarkan landasan konseptual dan langkah strategis. Dan dakwah dalam pengertian materi mesti dikembangkan melalui beberapa epistemologi sehingga komprehensif. Itulah dakwah lebih dari sekedar ceramah. Wassalam.